US DUR WALI (36)
Lily Wahid: Mbah Hasyim dan Pak Wahid Lebih Layak Disebut Wali
Senin, 2 Mei 2011 12:28
Lily Wahid: Mbah Hasyim dan Pak Wahid Lebih Layak Disebut Wali
Senin, 2 Mei 2011 12:28
Jakarta, NU Online
Banyak orang memberi predikat Gus Dur sebagai wali ke-10, melengkapi Walisongo yang telah menyebarkan Islam di nusantara. Pendiri NU KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim malah jarang disebut sebagai wali.
Bagi Lily Wahid, adik Gus Dur, KH Hasyim Asy’ari, kakek Gus Dur dan KH Wahid Hasyim (ayah Gus Dur) lebih layak menyandang sebutan sebagai wali karena amal ibadahnya.
“Dalam unsur kewalian, dia mengikuti kehidupan Rasuluullah, terutama ubudiyah (peribadatan),” katanya disela-sela acara Seabad KH Wahid Hasyim, Sabtu (30/4) lalu di Jakarta.
Ia menggambarkan bagaimana tekunnya ibadah kakek dan ayahnya itu. KH Hasyim Asy'ari ketika dihadapkan pada sebuah persoalan pelik, mampu menjalankan sholat hajat selama 5-6 jam, sementara KH Wahid Hasyim, rutin menjalankan puasa selama 7 tahun berturut-turut sebelum meninggal, kecuali pada hari-hari yang diharamkan berpuasa.
Ia merasa tidak tepat jika perjuangan dan ijtihad Gus Dur dalam bidang sosial politik membuat dia menjadi wali. Baginya, wali selalu terkait dengan amalan ubudiyah dan ilahiyyah.
“Saya sangat tidak sependapat dengan itu (Gus Dur wali.red), terus terang saja,” katanya.
Mengenai adanya testimoni dari orang-orang yang mengaku pernah menyaksikan karomah Gus Dur, ia meminta agar hal ini disikapi dengan hati-hati karena tidak semua berasal dari malaikat. (mkf)
GUS DUR WALI (35)Banyak orang memberi predikat Gus Dur sebagai wali ke-10, melengkapi Walisongo yang telah menyebarkan Islam di nusantara. Pendiri NU KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim malah jarang disebut sebagai wali.
Bagi Lily Wahid, adik Gus Dur, KH Hasyim Asy’ari, kakek Gus Dur dan KH Wahid Hasyim (ayah Gus Dur) lebih layak menyandang sebutan sebagai wali karena amal ibadahnya.
“Dalam unsur kewalian, dia mengikuti kehidupan Rasuluullah, terutama ubudiyah (peribadatan),” katanya disela-sela acara Seabad KH Wahid Hasyim, Sabtu (30/4) lalu di Jakarta.
Ia menggambarkan bagaimana tekunnya ibadah kakek dan ayahnya itu. KH Hasyim Asy'ari ketika dihadapkan pada sebuah persoalan pelik, mampu menjalankan sholat hajat selama 5-6 jam, sementara KH Wahid Hasyim, rutin menjalankan puasa selama 7 tahun berturut-turut sebelum meninggal, kecuali pada hari-hari yang diharamkan berpuasa.
Ia merasa tidak tepat jika perjuangan dan ijtihad Gus Dur dalam bidang sosial politik membuat dia menjadi wali. Baginya, wali selalu terkait dengan amalan ubudiyah dan ilahiyyah.
“Saya sangat tidak sependapat dengan itu (Gus Dur wali.red), terus terang saja,” katanya.
Mengenai adanya testimoni dari orang-orang yang mengaku pernah menyaksikan karomah Gus Dur, ia meminta agar hal ini disikapi dengan hati-hati karena tidak semua berasal dari malaikat. (mkf)
Gus Dur Pun Pernah Kena Santet
Kamis, 28 April 2011 11:44
Jakarta, NU Online
Ketika Gus Dur terkena stroke tahun 1998 lalu, banyak orang mencoba membantu dengan berbagai cara, termasuk dengan pengobatan alternatif. Salah satu pengobatan alternatif yang dicoba oleh Gus Dur adalah dengan pemijatan.
Adalah Dr Bina Suhendra, salah seorang Tionghoa pengagum Gus Dur memperkenalkan seorang tukang pijit asal Bali, yang terkenal bisa menyembuhkan penyakit stroke dengan memijit.
Akhirnya, ahli pijat ini didatangkan dari Bali, seorang ibu-ibu yang sudah cukup berusia. Ia memijat Gus Dur pada bagian-bagian yang memerlukan penanganan karena kondisi syaraf yang lemah.
Ditengah-tengah memijit kaki Gus Dur, tiba-tiba ibu tadi terlempar jatuh dan tangannya merah membara seperti habis terkena setlika. “Ia menjerit-jerit kesakitan, minta dicarikan bawang merah dan digosok-gosokkan ke tangannya untuk mengurangi panasnya,” kata Doktor kimia lulusan Jerman ini.
Sang ibu tadi bilang, ada makhluk lain dalam tubuh Gus Dur yang menganggu, dan ia tidak bisa mengalahkannya sendirian. Karena itu, ia berencana meminta bantuan anaknya yang tinggal di Lombok, yang juga memiliki kemampuan spiritual.
Beberapa waktu kemudian, pasangan ibu dan anak tersebut datang kembali. Gus Dur diobati dan dimandiin secara spiritual. Lalu kedua orang tersebut bertarung dengan makhluk halus yang mengganggu Gus Dur. Akhirnya, seekor srigala, yang sudah tertatih-tatih dengan tubuh penuh luka keluar.
Lalu orang tersebut bertanya kepada Gus Dur. “Ini dibunuh atau dikembalikan kepada orang yang mengirim santet”
“Bagi saya yang paling penting adalah jawaban Gus Dur. Beliau bilang, jangan dibunuh, biarin saja, yang penting sudah keluar. Ini yang membuat saya terkesan dengan beliau sebagai orang besar,” kata Bina Suhendra yang sekarang menjadi bendahara umum PBNU ini.
Pada hari kedua dalam proses pengobatan, satu makhluk halus keluar lagi dan Gus Dur kembali berpesan agar tidak dibunuh.
Rupanya, srigala yang dikalahkan pada hari sebelumnya dibunuh karena bandel dan Gus Dur ternyata juga tahu kejadian tersebut. (mkf)
Ramalan-Ramalan Gus Dur Jadi Presiden
Senin, 18 April 2011 13:53
Senin, 18 April 2011 13:53
Jakarta, NU Online
Jatuhnya rezim Orde Baru memberi kesempatan terjadinya perubahan kekuasaan. Pada pemilu 1999, terdapat tiga orang calon presiden, yaitu Megawati, Habibie dan Gus Dur, yang waktu itu paling tidak diunggulkan, tetapi secara mengejutkan menjadi presiden Indonesia yang ke-4.
Bagi orang-orang tertentu, bahkan mungkin bagi Gus Dur sendiri, menjadi presiden hanya soal waktu saja. Ia sudah tahu bahwa ia harus menjalankan amanah memimpin Indonesia melewati masa-masa krisis yang menentukan nasib bangsa ke depan.
Ramalan pertama tentang kepresidenan Gus Dur yang terlacak berasal dari seorang pendeta sakti Hindu dari Banyuwangi. Sedemikian saktinya, saat terjadi hujan, padepokan pendeta yang ada diatas gunung tersebut tak kehujanan sementara diluar kompleksnya basah kuyub.
Tahun 1997, dua tahun sebelum jadi presiden, Gus Dur yang memang sangat suka bersilaturrahmi kepada siapa saja, berkunjung ke pendeta sakti tersebut. Mantan ketua PBNU H Mustofa Zuhad Mughni diceritai oleh Gus Dur bahwa dalam kunjungan tersebut, ia sudah diramalkan akan menjadi presiden.
Mustofa Zuhad juga menuturkan, sekitar enam bulan sebelum menjadi presiden, Gus Dur juga sudah mulai menjaga dirinya. Ia menghindari diajak makan lesehan di dekat masjid Istiqlal yang sebelumnya menjadi langganannya.
Testimoni lain datang dari KH Abas Muin, teman akrab Gus Dur yang saat ini masih menjadi salah satu ketua PBNU. Dalam sebuah pertemuan dengan tokoh LSM, Gus Dur menyampaikan dirinya akan jadi presiden berikutnya.
“Teman-teman mengamini saja, untuk menjaga perasaan Gus Dur, meskipun saat itu juga kurang percaya,’ katanya.
Kiai Said Aqil juga menyampaikan, saat Gus Dur ditengah-tengah upaya penyembuhan terhadap stoke, ia sedang tertidur diatas kursinya, begitu bangun ia langsung berujar “Aku presiden,”.
Menurut Kiai Said saat penyembuhan stroke ini, indra keenam Gus Dur dalam proses paling tajam. “Ia bisa menebak skor pertandingan bola dengan tepat,” katanya, padahal waktu itu Gus Dur penglihatannya sudah sangat tidak memungkinkan untuk melihat pertandingan sepak bola. (mkf)
Jatuhnya rezim Orde Baru memberi kesempatan terjadinya perubahan kekuasaan. Pada pemilu 1999, terdapat tiga orang calon presiden, yaitu Megawati, Habibie dan Gus Dur, yang waktu itu paling tidak diunggulkan, tetapi secara mengejutkan menjadi presiden Indonesia yang ke-4.
Bagi orang-orang tertentu, bahkan mungkin bagi Gus Dur sendiri, menjadi presiden hanya soal waktu saja. Ia sudah tahu bahwa ia harus menjalankan amanah memimpin Indonesia melewati masa-masa krisis yang menentukan nasib bangsa ke depan.
Ramalan pertama tentang kepresidenan Gus Dur yang terlacak berasal dari seorang pendeta sakti Hindu dari Banyuwangi. Sedemikian saktinya, saat terjadi hujan, padepokan pendeta yang ada diatas gunung tersebut tak kehujanan sementara diluar kompleksnya basah kuyub.
Tahun 1997, dua tahun sebelum jadi presiden, Gus Dur yang memang sangat suka bersilaturrahmi kepada siapa saja, berkunjung ke pendeta sakti tersebut. Mantan ketua PBNU H Mustofa Zuhad Mughni diceritai oleh Gus Dur bahwa dalam kunjungan tersebut, ia sudah diramalkan akan menjadi presiden.
Mustofa Zuhad juga menuturkan, sekitar enam bulan sebelum menjadi presiden, Gus Dur juga sudah mulai menjaga dirinya. Ia menghindari diajak makan lesehan di dekat masjid Istiqlal yang sebelumnya menjadi langganannya.
Testimoni lain datang dari KH Abas Muin, teman akrab Gus Dur yang saat ini masih menjadi salah satu ketua PBNU. Dalam sebuah pertemuan dengan tokoh LSM, Gus Dur menyampaikan dirinya akan jadi presiden berikutnya.
“Teman-teman mengamini saja, untuk menjaga perasaan Gus Dur, meskipun saat itu juga kurang percaya,’ katanya.
Kiai Said Aqil juga menyampaikan, saat Gus Dur ditengah-tengah upaya penyembuhan terhadap stoke, ia sedang tertidur diatas kursinya, begitu bangun ia langsung berujar “Aku presiden,”.
Menurut Kiai Said saat penyembuhan stroke ini, indra keenam Gus Dur dalam proses paling tajam. “Ia bisa menebak skor pertandingan bola dengan tepat,” katanya, padahal waktu itu Gus Dur penglihatannya sudah sangat tidak memungkinkan untuk melihat pertandingan sepak bola. (mkf)
Syeikh Yasin Padang Layani Sendiri Gus Dur
Senin, 11 April 2011 10:42
Senin, 11 April 2011 10:42
Jakarta, NU Online
Syeikh Yasin Padang, salah satu ulama keturunan Indonesia yang yang menjadi benteng ajaran ahlusunnah wal jamaah merupakan ulama yang sangat dihormati di dunia. Ulama ini juga sangat dihormati oleh warga NU.
Bernama lengkap Syeikh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Al-Fadani lahir di kota Makkah pada tahun 1915 dan wafat pada tahun 1990. Ia adalah Muhaddits, Faqih, ahli tasawwuf dan kepala Madrasah Darul-Ulum, yang siswanya banyak berasal dari Indonesia.
Jumlah karya beliau mencapai 97 Kitab, di antaranya 9 kitab tentang Ilmu Hadits, 25 kitab tentang Ilmu dan Ushul Fiqih, 36 buku tentang ilmu Falak, dan sisanya tentang ilmu-ilmu yang lain.
Ia memiliki gaya hidup yang sangat sederhana, hanya menggunakan kaos dan sarung dan sering nongkrong di "Gahwaji" untuk Nyisyah (menghisap rokok arab)… tak seorangpun yang berani mencelanya karena kekayaan ilmu yang dimiliki
Pada muktamar NU tahun 1979, ia datang ke Indonesia dan selanjutnya melakukan kunjungan ke sejumlah pesantren, yang dihadiri oleh ribuan warga NU yang ingin bertemu langsung dengannya.
Ia juga dikenal memiliki banyak kekeramatan. Diantara cerita yang beredar soal kekeramatannya adalah Zakariyya Thalib asal Syiria pernah mendatangi rumah Syeikh Yasin Pada hari Jumat. Ketika Azan Jumat dikumandangkan, Syeikh Yasin masih saja di rumah, akhirnya Zakariyya keluar dan sholat di masjid terdekat. Seusai sholat Jum’at, ia menemui seorang kawan, Zakariyyapun bercerita pada temannya bahwa Syeikh Yasin ra. tidak sholat Jum’at. Namun dibantah oleh temannya karena kata temannya, “kami sama-sama Syekh solat di Nuzhah, yaitu di Masjid Syekh Hasan Massyat ra. yang jaraknya jauh sekali dari rumah beliau”…
HM Abrar Dahlan bercerita, suatu hari Syeikh Yasin pernah menyuruh saya membikin Syai (teh) dan Syesah (yang biasa diisap dengan tembakau dari buah-buahan/rokok tradisi bangsa Arab). Setalah dibikinkan dan Syeikh mulai meminum teh, ia keluar menuju Masjidil-Haram. Ketika kembali, saya melihat Syeikh Yasin baru pulang mengajar dari Masjid Al-Haram dengan membawa beberapa kitab… saya menjadi heran, anehnya tadi di rumah menyuruh saya bikin teh, sekarang beliau baru pulang dari masjid.
Dikisahkan ketika KH Abdul Hamid di Jakarta sedang mengajar dalam ilmu fiqih “bab diyat”, ia menemukan kesulitan dalam suatu hal sehingga pengajian terhenti karenanya… malam hari itu juga, ia menerima sepucuk surat dari Syeikh Yasin, ternyata isi surat itu adalah jawaban kesulitan yang dihadapinya. Iapun merasa heran, dari mana Syekh Yasin tahu…? Sedangkan KH Abdul Hamid sendiri tidak pernah menanyakan kepada siapapun tentang kesulitan ini..!
Kisah hubungan antara Syeikh Yasin Padang dan Gus Dur juga diungkapkan oleh KH Said Aqil Siroj. Dalam satu kunjungan ke Arab Saudi, Gus Dur menyempatkan diri singgah ke rumah Syeikh Yasin.
Dalam pertemuan tersebut, Gus Dur mendapat penghormatan yang luar biasa, meskipun usianya lebih muda, Syeikh Yasin melayani sendiri Gus Dur, mengambilkan air, kurma dan lainnya, tidak boleh dilayani oleh para pembantunya.
Kiai Said juga mendapat sejumlah cerita soal karomah Syeikh Yasin. Ketika sedang makan siang, ada ustadz anak buahnya, namanya Abdurrahim dari Kupang, keluar ruangan, tiba-tiba Syeikh Yasin bilang, Abdurrahim diiringin malaikat, "E.. jam enam sore mati," katanya.
Waktu Irak mau nyerang Kuwait, Syeikh Yasin tiba-tiba kemringet, ditanya sama Tantowi Musaddad, “Darimana?”, “Dari Kuwait, lihat bangkai dan darah,”
“Ini tanda kewaliannya Syeikh Yasin, orang kayak gitu dengan Gus Dur hormat dan memberi perlakukan istimewa, padahal juga sudah sepuh banget,” tandasnya. (mkf)
Syeikh Yasin Padang, salah satu ulama keturunan Indonesia yang yang menjadi benteng ajaran ahlusunnah wal jamaah merupakan ulama yang sangat dihormati di dunia. Ulama ini juga sangat dihormati oleh warga NU.
Bernama lengkap Syeikh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Al-Fadani lahir di kota Makkah pada tahun 1915 dan wafat pada tahun 1990. Ia adalah Muhaddits, Faqih, ahli tasawwuf dan kepala Madrasah Darul-Ulum, yang siswanya banyak berasal dari Indonesia.
Jumlah karya beliau mencapai 97 Kitab, di antaranya 9 kitab tentang Ilmu Hadits, 25 kitab tentang Ilmu dan Ushul Fiqih, 36 buku tentang ilmu Falak, dan sisanya tentang ilmu-ilmu yang lain.
Ia memiliki gaya hidup yang sangat sederhana, hanya menggunakan kaos dan sarung dan sering nongkrong di "Gahwaji" untuk Nyisyah (menghisap rokok arab)… tak seorangpun yang berani mencelanya karena kekayaan ilmu yang dimiliki
Pada muktamar NU tahun 1979, ia datang ke Indonesia dan selanjutnya melakukan kunjungan ke sejumlah pesantren, yang dihadiri oleh ribuan warga NU yang ingin bertemu langsung dengannya.
Ia juga dikenal memiliki banyak kekeramatan. Diantara cerita yang beredar soal kekeramatannya adalah Zakariyya Thalib asal Syiria pernah mendatangi rumah Syeikh Yasin Pada hari Jumat. Ketika Azan Jumat dikumandangkan, Syeikh Yasin masih saja di rumah, akhirnya Zakariyya keluar dan sholat di masjid terdekat. Seusai sholat Jum’at, ia menemui seorang kawan, Zakariyyapun bercerita pada temannya bahwa Syeikh Yasin ra. tidak sholat Jum’at. Namun dibantah oleh temannya karena kata temannya, “kami sama-sama Syekh solat di Nuzhah, yaitu di Masjid Syekh Hasan Massyat ra. yang jaraknya jauh sekali dari rumah beliau”…
HM Abrar Dahlan bercerita, suatu hari Syeikh Yasin pernah menyuruh saya membikin Syai (teh) dan Syesah (yang biasa diisap dengan tembakau dari buah-buahan/rokok tradisi bangsa Arab). Setalah dibikinkan dan Syeikh mulai meminum teh, ia keluar menuju Masjidil-Haram. Ketika kembali, saya melihat Syeikh Yasin baru pulang mengajar dari Masjid Al-Haram dengan membawa beberapa kitab… saya menjadi heran, anehnya tadi di rumah menyuruh saya bikin teh, sekarang beliau baru pulang dari masjid.
Dikisahkan ketika KH Abdul Hamid di Jakarta sedang mengajar dalam ilmu fiqih “bab diyat”, ia menemukan kesulitan dalam suatu hal sehingga pengajian terhenti karenanya… malam hari itu juga, ia menerima sepucuk surat dari Syeikh Yasin, ternyata isi surat itu adalah jawaban kesulitan yang dihadapinya. Iapun merasa heran, dari mana Syekh Yasin tahu…? Sedangkan KH Abdul Hamid sendiri tidak pernah menanyakan kepada siapapun tentang kesulitan ini..!
Kisah hubungan antara Syeikh Yasin Padang dan Gus Dur juga diungkapkan oleh KH Said Aqil Siroj. Dalam satu kunjungan ke Arab Saudi, Gus Dur menyempatkan diri singgah ke rumah Syeikh Yasin.
Dalam pertemuan tersebut, Gus Dur mendapat penghormatan yang luar biasa, meskipun usianya lebih muda, Syeikh Yasin melayani sendiri Gus Dur, mengambilkan air, kurma dan lainnya, tidak boleh dilayani oleh para pembantunya.
Kiai Said juga mendapat sejumlah cerita soal karomah Syeikh Yasin. Ketika sedang makan siang, ada ustadz anak buahnya, namanya Abdurrahim dari Kupang, keluar ruangan, tiba-tiba Syeikh Yasin bilang, Abdurrahim diiringin malaikat, "E.. jam enam sore mati," katanya.
Waktu Irak mau nyerang Kuwait, Syeikh Yasin tiba-tiba kemringet, ditanya sama Tantowi Musaddad, “Darimana?”, “Dari Kuwait, lihat bangkai dan darah,”
“Ini tanda kewaliannya Syeikh Yasin, orang kayak gitu dengan Gus Dur hormat dan memberi perlakukan istimewa, padahal juga sudah sepuh banget,” tandasnya. (mkf)
GUS DUR WALI (29)
Saat-saat Kritis Gus Dur Lolos dari Maut
Jumat, 8 April 2011 08:21
Saat-saat Kritis Gus Dur Lolos dari Maut
Jumat, 8 April 2011 08:21
Jakarta, NU Online
Pada malam 19 Januari, Hasyim Wahid, adik terkecil Gus Dur sedang menunggunya di kantor ketika kemudian ia merasa khawatir. Gus Dur ke kamar mandi di seberang koridor kantornya di gedung PBNU. Setelah sekian lama, ia tak muncul juga.
Karena tak dapat menunggu lagi, Hasyim dan beberapa orang lagi membuka paksa pintu kamar mandi dan mendapatkan Gus Dur tak sadarkan diri di lantai. Saudaranya yang lain, Umar, seorang dokter, dipanggil dan Gus Dur dilarikan ke rumah sakit.
Umar mengumpulkan teman-temannya dan malam itu ahli bedah syaraf terbaik di Indonesia berkumpul di rumah sakit untuk berunding dengan Umar.
Tampaknya Gus Dur tak akan bertahan hidup. Tekanan darahnya meningkat hingga ke tingkat fatal dan denyut nadinya serta tanda-tanda vital lainnya menunjukkan ia nyaris menghadapi maut.
Diagnosis yang diberikan adalah bahwa ia menderita stoke berat. Satu-satunya cara untuk mengatasi msalah ini adalah melakukan pembedahan darurat yang penuh risiko dan memasukkan sebuah pipa kecil plastik untuk mengeluarkan cairan dari tengkorak kepalanya.
Namun malam itu tak mungkin dilakukan pembedahan karena bila dilakukan, ia akan kehilangan nyawanya. Mereka memutuskan menunggu hingga keesokan paginya. Ketika pagi tiba, Umar meminta para ahli bedah syarat untuk melakukan pembedahan. Mereka protes karena bagi mereka, hal ini mengandung banyak risiko dan sang pasien akan meninggal di meja operasi.
Umar menanggapinya demikian: “Kami berhutang kepadanya untuk memberikan kesempatan. Kakak saya sering kali keluar secara mengejutkan dari situasi yang sulit. Paling tidak kita harus memberikan kesempatan kepadanya. Kita harus mengoperasikannya”
Ketika tim bedah berkumpul di ruang bedah, setiap orang merasakan dekatnya malapetaka dan hampir merasa pasti Gus Dur tak akan keluar dari ruang bedah ini dalam keadaan hidup.
Namun, di luar perkiraan, operasi ini berjalan baik. Dalam beberapa jam kemudian, ia telah menunjukkan sedikit tanda-tanda ke arah kesembuhan.
Keesokan harinya, Gus Dur telah mampu berbicara dengan tamu-tamunya dan kelihatan ia telah melewati serangan stroke dan bedah otak dengan sangat baik. Dikutip dari Biografi Gus Dur, karya Greg Barton. (mkf)
Pada malam 19 Januari, Hasyim Wahid, adik terkecil Gus Dur sedang menunggunya di kantor ketika kemudian ia merasa khawatir. Gus Dur ke kamar mandi di seberang koridor kantornya di gedung PBNU. Setelah sekian lama, ia tak muncul juga.
Karena tak dapat menunggu lagi, Hasyim dan beberapa orang lagi membuka paksa pintu kamar mandi dan mendapatkan Gus Dur tak sadarkan diri di lantai. Saudaranya yang lain, Umar, seorang dokter, dipanggil dan Gus Dur dilarikan ke rumah sakit.
Umar mengumpulkan teman-temannya dan malam itu ahli bedah syaraf terbaik di Indonesia berkumpul di rumah sakit untuk berunding dengan Umar.
Tampaknya Gus Dur tak akan bertahan hidup. Tekanan darahnya meningkat hingga ke tingkat fatal dan denyut nadinya serta tanda-tanda vital lainnya menunjukkan ia nyaris menghadapi maut.
Diagnosis yang diberikan adalah bahwa ia menderita stoke berat. Satu-satunya cara untuk mengatasi msalah ini adalah melakukan pembedahan darurat yang penuh risiko dan memasukkan sebuah pipa kecil plastik untuk mengeluarkan cairan dari tengkorak kepalanya.
Namun malam itu tak mungkin dilakukan pembedahan karena bila dilakukan, ia akan kehilangan nyawanya. Mereka memutuskan menunggu hingga keesokan paginya. Ketika pagi tiba, Umar meminta para ahli bedah syarat untuk melakukan pembedahan. Mereka protes karena bagi mereka, hal ini mengandung banyak risiko dan sang pasien akan meninggal di meja operasi.
Umar menanggapinya demikian: “Kami berhutang kepadanya untuk memberikan kesempatan. Kakak saya sering kali keluar secara mengejutkan dari situasi yang sulit. Paling tidak kita harus memberikan kesempatan kepadanya. Kita harus mengoperasikannya”
Ketika tim bedah berkumpul di ruang bedah, setiap orang merasakan dekatnya malapetaka dan hampir merasa pasti Gus Dur tak akan keluar dari ruang bedah ini dalam keadaan hidup.
Namun, di luar perkiraan, operasi ini berjalan baik. Dalam beberapa jam kemudian, ia telah menunjukkan sedikit tanda-tanda ke arah kesembuhan.
Keesokan harinya, Gus Dur telah mampu berbicara dengan tamu-tamunya dan kelihatan ia telah melewati serangan stroke dan bedah otak dengan sangat baik. Dikutip dari Biografi Gus Dur, karya Greg Barton. (mkf)
GUS DUR WALI (28)
Gus Dur Tertarik Dunia Sufistik dan Mistik sejak Muda
Kamis, 7 April 2011 13:10
Gus Dur Tertarik Dunia Sufistik dan Mistik sejak Muda
Kamis, 7 April 2011 13:10
Jakarta, NU Online
Kebiasaan Gus Dur untuk melakukan ziarah ke makam-makam yang dianggap keramat, yang bagi orang muslim Jawa dianggap sebagai “laku” atau tirakat ternyata telah tumbuh dan berkembang dari usia muda.
Ketika belajar di pesantren Tambakberas dan Denanyar Jombang, antara tahun 1959-1963, yang berarti pada usia 20 tahunan, ia rutin menjalankan aktifitas ini, bahkan ke makam yang sangat jauh dengan berjalan kaki.
Dalam buku biografinya, yang ditulis oleh Greb Barton, digambarkan
“Ia sangat tertarik pada sisi sufistik dan mistik dari kebudayaan Islam tradisional dan juga telah membiasakan diri untuk secara teratur berziarah ke makam-makam untuk berdoa dan bermeditasi, biasanya pada tengah malam. Kadangkala pendekatan terhadap kedua ilmu ini saling tumpang tindih….
Dalam tradisi pesantren, para santri biasanya menghapal kitab Alfiyah, yang merupakan tata bahasa Arab. Untuk bisa menghafal kitab ini, Gus Dur pun melakukan ziarah.
“Ketika menyiapkan dirinya untuk menghapal teks ini, Gus Dur bersumpah untuk melakukan ziarah dengan berjalan kaki ke makam-makam di selatan Jombang dengan puncaknya di daerah yang tidak rata dan berpenduduk jarang di pantai selatan Jawa.
Ia berhasil dan berangkat melakukan ziarah pribadinya sambil menuju arah selatan lewat jalan-jalan yang tak banyak ditempuh orang karena ia kuatir dikenali dan kemudian diberi tumpangan.
Perjalanan kaki ini menempuh jarak lebih dari 100 km, dan memerlukan beberapa hari. Bagi Gus Dur, perjalanan ini benar-benar di luar batas kemampuan manusiawi tubuhnya yang kurang atletis, namun kekerasan hatinyalah yang membuatnya dapat menempuh jarak sejauh itu.
Namun demikian, ketika baru memulai perjalanan pulangnya, ia dikenali oleh beberapa orang yang menumpang mobil dan dengan gembira, ia menerima tawaran tumpangan untuk kembali ke Jombang”. (mkf)
Kebiasaan Gus Dur untuk melakukan ziarah ke makam-makam yang dianggap keramat, yang bagi orang muslim Jawa dianggap sebagai “laku” atau tirakat ternyata telah tumbuh dan berkembang dari usia muda.
Ketika belajar di pesantren Tambakberas dan Denanyar Jombang, antara tahun 1959-1963, yang berarti pada usia 20 tahunan, ia rutin menjalankan aktifitas ini, bahkan ke makam yang sangat jauh dengan berjalan kaki.
Dalam buku biografinya, yang ditulis oleh Greb Barton, digambarkan
“Ia sangat tertarik pada sisi sufistik dan mistik dari kebudayaan Islam tradisional dan juga telah membiasakan diri untuk secara teratur berziarah ke makam-makam untuk berdoa dan bermeditasi, biasanya pada tengah malam. Kadangkala pendekatan terhadap kedua ilmu ini saling tumpang tindih….
Dalam tradisi pesantren, para santri biasanya menghapal kitab Alfiyah, yang merupakan tata bahasa Arab. Untuk bisa menghafal kitab ini, Gus Dur pun melakukan ziarah.
“Ketika menyiapkan dirinya untuk menghapal teks ini, Gus Dur bersumpah untuk melakukan ziarah dengan berjalan kaki ke makam-makam di selatan Jombang dengan puncaknya di daerah yang tidak rata dan berpenduduk jarang di pantai selatan Jawa.
Ia berhasil dan berangkat melakukan ziarah pribadinya sambil menuju arah selatan lewat jalan-jalan yang tak banyak ditempuh orang karena ia kuatir dikenali dan kemudian diberi tumpangan.
Perjalanan kaki ini menempuh jarak lebih dari 100 km, dan memerlukan beberapa hari. Bagi Gus Dur, perjalanan ini benar-benar di luar batas kemampuan manusiawi tubuhnya yang kurang atletis, namun kekerasan hatinyalah yang membuatnya dapat menempuh jarak sejauh itu.
Namun demikian, ketika baru memulai perjalanan pulangnya, ia dikenali oleh beberapa orang yang menumpang mobil dan dengan gembira, ia menerima tawaran tumpangan untuk kembali ke Jombang”. (mkf)
GUS DUR WALI (27)
Ulama Terbesar Saudi pun Hormati Gus Dur
Rabu, 6 April 2011 12:41
Ulama Terbesar Saudi pun Hormati Gus Dur
Rabu, 6 April 2011 12:41
Jakarta, NU Online
Ulama yang sangat dihormati di Saudi Arabia, dalam satu negara yang menganut faham Wahabi, Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, yang muridnya tersebar di seluruh dunia, memberi penghormatan pribadi kepada Gus Dur ketika berkunjung ke kediamannya.
Besarnya pengaruh ulama yang mendalami mazhab Maliki ini telah berlangsung sejak dahulu. Lima orang kakek pendahulunya merupakan pemuka mazhab Imam Maliki di Makkah. Raja Saudi Arabia Faishal, tak akan membuat kebijakan terkait dengan Masjidil Haram sebelum berkonsultasi dengannya.
Ia belajar di Al Azhar Mesir dan memperoleh gelar Doktor pada usia 25 tahun, yang merupakan orang Saudi pertama yang mencapai gelar akademik tertinggi pada usia termuda. Sebagai seorang akademisi, ia telah mengarang lebih dari 100 kitab. Muridnya tersebar di seluruh dunia, terutama berasal dari Indonesia, Malaysia, Mesir, Yaman dan Dubai. Mereka yang belajar di pesantrennya difasilitasi penuh olehnya.
Alawi Al Maliki meninggal tahun 2004 dan upacara penguburannya merupakan yang terbesar dalam 100 tahun belakangan. Radio Arab Saudi selama tiga hari penuh hanya memutar al Qur’an untuk menghormatinya.
Ayahnya, Sayid Alwi Al Maliki adalah guru dari pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari. Dia juga pernah menjadi guru besar di Masjidil Haram pada 1930-an dan 40-an dan merupakan ulama terbesar pada zamannya. Banyak ulama sepuh dari Nahdlatul Ulama yang menimba ilmu dari Sayid Alwi Al-Maliki yang merupakan ahli hadist.
Penghormatan kepada Gus Dur, yang waktu itu masih menjabat sebagai ketua umum PBNU, oleh orang terhormat ini dituturkan oleh KH Said Aqil Siroj, yang waktu itu menemaninya bersama Ghofar Rahman, sekjen Gus Dur dalam satu kunjungan ke Mekkah.
Sebagai ulama terkemuka, Sayyid Maliki selalu dikunjungi oleh tamu dari berbagai negara. Waktu Gus Dur datang ke kediamannya, di ruang tamu sudah banyak sekali orang yang mengantri.
Begitu Gus Dur datang, ia langsung dipersilahkan masuk, bahkan diajak berbincang di kamar tidur pribadinya, bukan di ruang tamu. Gus Dur dikasih uang, arloji mewah dan barang berharga lainnya sebagai tanda penghormatan.
Dalam pertemuan tersebut, Kiai Said mengggambarkan, “Begitu hormatnya mereka berdua. Dan mereka bukan orang sembarangan,” (mkf)
Ulama yang sangat dihormati di Saudi Arabia, dalam satu negara yang menganut faham Wahabi, Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, yang muridnya tersebar di seluruh dunia, memberi penghormatan pribadi kepada Gus Dur ketika berkunjung ke kediamannya.
Besarnya pengaruh ulama yang mendalami mazhab Maliki ini telah berlangsung sejak dahulu. Lima orang kakek pendahulunya merupakan pemuka mazhab Imam Maliki di Makkah. Raja Saudi Arabia Faishal, tak akan membuat kebijakan terkait dengan Masjidil Haram sebelum berkonsultasi dengannya.
Ia belajar di Al Azhar Mesir dan memperoleh gelar Doktor pada usia 25 tahun, yang merupakan orang Saudi pertama yang mencapai gelar akademik tertinggi pada usia termuda. Sebagai seorang akademisi, ia telah mengarang lebih dari 100 kitab. Muridnya tersebar di seluruh dunia, terutama berasal dari Indonesia, Malaysia, Mesir, Yaman dan Dubai. Mereka yang belajar di pesantrennya difasilitasi penuh olehnya.
Alawi Al Maliki meninggal tahun 2004 dan upacara penguburannya merupakan yang terbesar dalam 100 tahun belakangan. Radio Arab Saudi selama tiga hari penuh hanya memutar al Qur’an untuk menghormatinya.
Ayahnya, Sayid Alwi Al Maliki adalah guru dari pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari. Dia juga pernah menjadi guru besar di Masjidil Haram pada 1930-an dan 40-an dan merupakan ulama terbesar pada zamannya. Banyak ulama sepuh dari Nahdlatul Ulama yang menimba ilmu dari Sayid Alwi Al-Maliki yang merupakan ahli hadist.
Penghormatan kepada Gus Dur, yang waktu itu masih menjabat sebagai ketua umum PBNU, oleh orang terhormat ini dituturkan oleh KH Said Aqil Siroj, yang waktu itu menemaninya bersama Ghofar Rahman, sekjen Gus Dur dalam satu kunjungan ke Mekkah.
Sebagai ulama terkemuka, Sayyid Maliki selalu dikunjungi oleh tamu dari berbagai negara. Waktu Gus Dur datang ke kediamannya, di ruang tamu sudah banyak sekali orang yang mengantri.
Begitu Gus Dur datang, ia langsung dipersilahkan masuk, bahkan diajak berbincang di kamar tidur pribadinya, bukan di ruang tamu. Gus Dur dikasih uang, arloji mewah dan barang berharga lainnya sebagai tanda penghormatan.
Dalam pertemuan tersebut, Kiai Said mengggambarkan, “Begitu hormatnya mereka berdua. Dan mereka bukan orang sembarangan,” (mkf)
Wali yang Lari dari Hadapan Gus Dur
Ahad, 3 April 2011 08:25
Ahad, 3 April 2011 08:25
Jakarta, NU Online
Wali memang kekasih Allah, tetapi diantara wali sendiri terdapat tingkatan-tingkatan. Semakin tinggi tingkatan seorang wali, mereka yang posisinya lebih rendah akan lebih menghormatinya.
Kali ini, cerita salah satu karomah Gus Dur diungkapkan oleh Kiai Said Aqil Siroj saat menjalankan umrah Ramadhan, ketika Gus Dur masih menjadi ketua umum PBNU.
Kang Said menuturkan setelah sholat tarawih berjamaah, ia diajak oleh Gus Dur untuk mencari orang yang khowas (khusus), yang ibadahnya semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah dan malu mengharapkan pahala, meskipun itu tidak dilarang. Mereka sudah berprinsip, manusia datangnya dari Allah, maka dalam beribadah, tak sepantasnya mengharapkan imbalan.
Berdua bersama Gus Dur, mereka mengunjungi satu per satu kelompok orang yang memberi pengajian, ada yang jenggotnya panjang, ada yang kitabnya setumpuk dan mampu menjawab segala macam pertanyaan, ada yang jamaahnya banyak, tetapi semuanya dilewati.
Lalu sampailah mereka dihadapan seorang Mesir yang sederhana, surbannya tidak besar, duduk di sebuah sudut. Kang Said selanjutnya diminta oleh Gus Dur untuk memperkenalkan dirinya sebagai ketua umum Nahdlatul Ulama dari Indonesia
Tak seperti biasanya, orang Mesir terkenal dengan keramahannya, biasanya langsung ahlan wa sahlan ketika menerima tamu, tetapi yang satu ini bersikap agak ketus ketika ditanya.
Kang Said menyampaikan niat dari Gus Dur untuk meminta sekedar doa selamat dari orang tersebut.
Setelah berdoa ia langsung lari, dan menarik sajadahnya sambil berkata “Dosa apa aku ya robbi sampai engkau buka rahasiaku dengan orang ini”.
Kang Said berkesimpulan bahwa orang tersebut merupakan wali yang sedang bersembunyi, jangan sampai orang lain tahu bahwa ia adalah wali, tetapi ternyata kewaliannya diketahui oleh Gus Dur, yang derajat kewaliannya lebih tinggi, dan ia merasa rahasianya terungkap karena ia memiliki dosa. (mkf)
Wali memang kekasih Allah, tetapi diantara wali sendiri terdapat tingkatan-tingkatan. Semakin tinggi tingkatan seorang wali, mereka yang posisinya lebih rendah akan lebih menghormatinya.
Kali ini, cerita salah satu karomah Gus Dur diungkapkan oleh Kiai Said Aqil Siroj saat menjalankan umrah Ramadhan, ketika Gus Dur masih menjadi ketua umum PBNU.
Kang Said menuturkan setelah sholat tarawih berjamaah, ia diajak oleh Gus Dur untuk mencari orang yang khowas (khusus), yang ibadahnya semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah dan malu mengharapkan pahala, meskipun itu tidak dilarang. Mereka sudah berprinsip, manusia datangnya dari Allah, maka dalam beribadah, tak sepantasnya mengharapkan imbalan.
Berdua bersama Gus Dur, mereka mengunjungi satu per satu kelompok orang yang memberi pengajian, ada yang jenggotnya panjang, ada yang kitabnya setumpuk dan mampu menjawab segala macam pertanyaan, ada yang jamaahnya banyak, tetapi semuanya dilewati.
Lalu sampailah mereka dihadapan seorang Mesir yang sederhana, surbannya tidak besar, duduk di sebuah sudut. Kang Said selanjutnya diminta oleh Gus Dur untuk memperkenalkan dirinya sebagai ketua umum Nahdlatul Ulama dari Indonesia
Tak seperti biasanya, orang Mesir terkenal dengan keramahannya, biasanya langsung ahlan wa sahlan ketika menerima tamu, tetapi yang satu ini bersikap agak ketus ketika ditanya.
Kang Said menyampaikan niat dari Gus Dur untuk meminta sekedar doa selamat dari orang tersebut.
Setelah berdoa ia langsung lari, dan menarik sajadahnya sambil berkata “Dosa apa aku ya robbi sampai engkau buka rahasiaku dengan orang ini”.
Kang Said berkesimpulan bahwa orang tersebut merupakan wali yang sedang bersembunyi, jangan sampai orang lain tahu bahwa ia adalah wali, tetapi ternyata kewaliannya diketahui oleh Gus Dur, yang derajat kewaliannya lebih tinggi, dan ia merasa rahasianya terungkap karena ia memiliki dosa. (mkf)
US DUR WALI (24)
Gus Dur Permudah Datangnya Rizki
Sabtu, 2 April 2011 09:45
Gus Dur Permudah Datangnya Rizki
Sabtu, 2 April 2011 09:45
Yogyakarta, NU Online
Tuan Guru Turmudzi, ulama yang dihormati masyarakat Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) merasakan berkah dari kewalian Gus Dur dalam penyelenggaraan Munas NU tahun 1997 yang diselenggarakan di pesantrenya di Bagu Lombok Tengah.
Dengan posisinya yang berada di Lombok, kondisi pesantrennya masih sangat sederhana, bangunan untuk mengaji masih ala kadarnya. Jumlah santri yang belajar juga tidak begitu banyak. Situasi yang ada sangat kurang layak untuk menggelar sebuah acara nasional dengan lancar.
Namun begitu ditetapkan oleh sebagai lokasi munas oleh Gus Dur, yang waktu itu merupakan ketua umum PBNU, berbagai macam bantuan datang untuk mensukseskan acara, berupa sarana untuk memperbaiki infrastruktur pesantren atau kebutuhan-kebutuhan operasional untuk pelaksanaan acara.
Berkahnya pun terasa sampai sekarang, pesantrennya pun semakin maju dan berkembang dan menjadi sebuah pesantren yang semakin dikenal masyarakat di NTB. Ia merasa, ini semua adalah berkah keputusan Gus Dur dengan menjadikan pesantrennya lokasi munas NU. (mkf)
Tuan Guru Turmudzi, ulama yang dihormati masyarakat Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) merasakan berkah dari kewalian Gus Dur dalam penyelenggaraan Munas NU tahun 1997 yang diselenggarakan di pesantrenya di Bagu Lombok Tengah.
Dengan posisinya yang berada di Lombok, kondisi pesantrennya masih sangat sederhana, bangunan untuk mengaji masih ala kadarnya. Jumlah santri yang belajar juga tidak begitu banyak. Situasi yang ada sangat kurang layak untuk menggelar sebuah acara nasional dengan lancar.
Namun begitu ditetapkan oleh sebagai lokasi munas oleh Gus Dur, yang waktu itu merupakan ketua umum PBNU, berbagai macam bantuan datang untuk mensukseskan acara, berupa sarana untuk memperbaiki infrastruktur pesantren atau kebutuhan-kebutuhan operasional untuk pelaksanaan acara.
Berkahnya pun terasa sampai sekarang, pesantrennya pun semakin maju dan berkembang dan menjadi sebuah pesantren yang semakin dikenal masyarakat di NTB. Ia merasa, ini semua adalah berkah keputusan Gus Dur dengan menjadikan pesantrennya lokasi munas NU. (mkf)
GUS DUR WALI (23)
Tuan Guru Turmudzi Uji Kewalian Gus Dur
Jumat, 1 April 2011 08:49
Yogyakarta, NU OnlineTuan Guru Turmudzi Uji Kewalian Gus Dur
Jumat, 1 April 2011 08:49
Ulama terkemuka dari Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Turmudzi Badruddin merupakan sahabat Gus Dur, dan orang yang sangat mempercayai kewalian Gus Dur, bahkan, ia sempat menguji, apakah Gus Dur termasuk wali atau bukan.
Bagaimana ia menguji kewalian Gus Dur? Kisahnya bermula ketika Gus Dur meninggal dunia. Berita meninggalnya Gus Dur sekitar pukul 7 malam 30 Desember 2011 itu dengan cepat tersebar ke seluruh penjuru dunia dan seluruh masyarakat pun terkejut akan kejadian tersebut.
Ia bersama dengan rombongan malam itu pun langsung mencari tiket untuk penerbangan esok hari ke Surabaya untuk mengikuti pemakaman Gus Dur di Jombang. Kebetulan sekali, tibanya pesawat jenazah Gus Dur dari Jakarta dan penerbangan dari NTB hampir berbarengan.
Dengan pengawalan, jenazah Gus Dur bisa melaju cepat dari Surabaya ke Jombang, sementara ia mengikuti dari belakang rombongan tersebut.
Sayangnya, begitu memasuki Jombang mobil rombongan yang ditumpangi ketinggalan jauh dari mobil jenazah Gus Dur karena tumpah ruahnya para peziarah yang memasuki Jombang.
Kemacetan pun sangat parah, mobil-mobil semuanya menuju pesantren Tebuireng, untuk mengikuti prosesi pemakaman. Karena sudah tidak bisa berbuat apa-apa, ia pun mengajak teman-temannya berdoa.
“Mari kita baca surat Alfatihah, jika Gus Dur benar-benar wali, maka kita akan diberi kemudahan,” katanya ketika berbincang dengan NU Online disela-sela rapat pleno PBNU di kompleks pesantren Krapyak Yogyakarta.
Tiba-tiba saja, terdapat motor pengawalan (forider), yang memintanya untuk cepat-cepat bergerak sehingga ia dengan lancar dapat memasuki kompleks pesantren dengan gampang dan setelah itu, motor pengawal tersebut pun menghilang. (mkf) GUS DUR WALI (21)
Gus Dur Tahu sebelum Kejadian "Weruh Sakdurunge Winarah"
Kamis, 24 Maret 2011 08:25
Jakarta, NU Online
Para Waliyullah memiliki berbagai karomah yang menunjukkan kedekatannya dengan Sang Pencipta. Selain kejadian-kejadian aneh, karomah (keutamaan) ini seringkali berupa pengetahuan tentang hal-hal yang akan terjadi pada masa-masa yang akan datang.
Salah satu alasan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sering disebut-sebut sebagai waliyullah adalah pengetahuan Gus Dur mengenai peristiwa-peristiwa yang belum terjadi. Masyarakat Jawa biasa menyebut kemampuan ini dengan istilah "weruh sak durunge winarah."
Beberapa ulama dan Kiai banyak menceritakan tentang kemampuan Gus Dur yang satu ini. Selain cerita kebiasaan tidur di kala seminar yang kemudian terbangun dan bicara dengan sempurna mengenai isi pembicaraan sebelumnya, Gus Dur juga memiliki cerita kemampuan "weruh sak durunge winarah" ini di dunia nyata.
Kisah berikut ini diceritakan oleh Katib Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jakarta Utara, KH Miftakhul Falah tatkala Beliau turut menunggui Gus Dur yang dirawat di Rumah Sakit Umum Koja Jakarta Utara, sekitar tahun 1994-an.
Dalam ceritanya, KH Miftakhul Falah menceritakan, sewaktu Gus Dur sedang dirawat di RS Koja, beliau menyempatkan diri untuk berziarah ke makam Habib Hasan di Pemakaman Koja. Dalam berziarah ini, Gus Dur selalu ditemani oleh beberapa orang sambil mendengarkan ceritanya.
"Kalau di kemudian hari makam ini dibongkar, maka akan terjadi kerusuhan," kata Miftakhul Falah menirukan kata-kata Gus Dur kala itu.
Menurut Miftah, tidak seorang pun yang mengerti dan akan membayangkan kalimat Gus Dur tersebut akan menjadi kenyataan pada suatu ketika. Namun rupanya, zamanlah yang kelak membuktikan kata-kata Gus Dur tersebut.
"Terbukti. Ketika makam tersebut akan dibongkar, benar-benar terjadi kerusuhan pada bulan April 2010 lalu," tutur Miftakhul Falah.
Menurutnya, banyak kini di antara temen-temannya yang menjadikan kalimat tersebut sebagai bukti kewalian Gus Dur. Ketika orang-orang lain bahkan belum bisa membayangkan, Gus Dur telah mengungkapkannya. (min)
Para Waliyullah memiliki berbagai karomah yang menunjukkan kedekatannya dengan Sang Pencipta. Selain kejadian-kejadian aneh, karomah (keutamaan) ini seringkali berupa pengetahuan tentang hal-hal yang akan terjadi pada masa-masa yang akan datang.
Salah satu alasan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sering disebut-sebut sebagai waliyullah adalah pengetahuan Gus Dur mengenai peristiwa-peristiwa yang belum terjadi. Masyarakat Jawa biasa menyebut kemampuan ini dengan istilah "weruh sak durunge winarah."
Beberapa ulama dan Kiai banyak menceritakan tentang kemampuan Gus Dur yang satu ini. Selain cerita kebiasaan tidur di kala seminar yang kemudian terbangun dan bicara dengan sempurna mengenai isi pembicaraan sebelumnya, Gus Dur juga memiliki cerita kemampuan "weruh sak durunge winarah" ini di dunia nyata.
Kisah berikut ini diceritakan oleh Katib Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jakarta Utara, KH Miftakhul Falah tatkala Beliau turut menunggui Gus Dur yang dirawat di Rumah Sakit Umum Koja Jakarta Utara, sekitar tahun 1994-an.
Dalam ceritanya, KH Miftakhul Falah menceritakan, sewaktu Gus Dur sedang dirawat di RS Koja, beliau menyempatkan diri untuk berziarah ke makam Habib Hasan di Pemakaman Koja. Dalam berziarah ini, Gus Dur selalu ditemani oleh beberapa orang sambil mendengarkan ceritanya.
"Kalau di kemudian hari makam ini dibongkar, maka akan terjadi kerusuhan," kata Miftakhul Falah menirukan kata-kata Gus Dur kala itu.
Menurut Miftah, tidak seorang pun yang mengerti dan akan membayangkan kalimat Gus Dur tersebut akan menjadi kenyataan pada suatu ketika. Namun rupanya, zamanlah yang kelak membuktikan kata-kata Gus Dur tersebut.
"Terbukti. Ketika makam tersebut akan dibongkar, benar-benar terjadi kerusuhan pada bulan April 2010 lalu," tutur Miftakhul Falah.
Menurutnya, banyak kini di antara temen-temannya yang menjadikan kalimat tersebut sebagai bukti kewalian Gus Dur. Ketika orang-orang lain bahkan belum bisa membayangkan, Gus Dur telah mengungkapkannya. (min)
Gus Dur Miliki Ilmu Ladunni
Jumat, 11 Maret 2011 11:33
Jumat, 11 Maret 2011 11:33
Jakarta, NU Online
Ilmu ladunni adalah ilmu yang langsung diperoleh dari Allah, bisa berupa ilham sehingga jika seseorang memiliki ilmu ini, ia tak perlu belajar karena Allah telah memberikan pengetahuan secara langsung kepada orang yang hatinya bersih karena jiwa yang bersih dapat berkomunikasi langsung dengan sumber ilmu, yaitu Allah.
Istilah ilmu ladunni berasal dari sebuah ayat Qur’an, diambil dari kalimat 'minladunna ilman', ... ilmu yang berasal dari sisi Kami (Allah) tercantum dalam QS. Al Kahfi : 65
"..lalu mereka bertemu dengan seorang hamba diantara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami".
Ayat ini menceritakan kisah pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidir dalam sebuah perjalanan dan Khidir menunjukkan sejumlah rahasia dan hikmah dibalik sebuah peristiwa yang tidak diketahui oleh Musa.
Jika seorang mukmin telah diberi ilmu ini, maka ia dapat mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi, baik pada masa sekarang atau yang akan datang, dengan firasat tajam yang dimilikinya.
Sebagian kiai di lingkungan Nahdlatul Ulama percaya bahwa Gus Dur merupakan orang yang diberi keberkahan oleh Allah dengan ilmu ladunni sehingga bisa memiliki ilmu pengetahuan yang sangat luas tanpa susah-susah belajar atau mampu meramalkan masa depan.
Keyakinan para kiai akan ilmu ladunni Gus Dur ini diungkapkan oleh mantan ketua PBNU H Mustofa Zuhad Mughni karena Gus Dur memiliki keikhlasan yang luar biasa dan tidak menjalankan maksiat.
Akan kemampuan otak Gus Dur, ia sering membuktikan sendiri. seringkali sehabis pulang dari luar negeri, Gus Dur membawa buku-buku baru, yang masih terbungkus rapi. Kemudian, buku tersebut diserahkan kepadanya untuk dibaca. Seminggu kemudian, ia mengembalikan buku tersebut, dan hanya dengan melihat daftar isi, referensi dan kesimpulan, Gus Dur sudah mampu mengajak diskusi isi buku tersebut.
“Gus Dur sudah paham isinya semua, padahal kita harus baca penuh,” katanya.
Menurutnya, kamampuan ilmu Gus Dur ini lebih dari jenius karena gabungan dari daya ingat yang kuat dan analis tajam. “Bacaannya banyak, ingatannya juga kuat,”
Salah satu bukti kuatnya ingatan Gus Dur adalah ia mampu mengingat lebih dari 2000 nomor telepon. Saat sekretaris pribadinya masih mencari sebuah nomor telepon di buku catatan, Gus Dur dengan enteng langsung menyebutkan nomornya. Daya ingat Gus Dur ini mulai menurun ketika kapalanya harus di opeasi akibat stroke.
Mustofa Zuhad juga menuturkan, dalam pertemuannya dengan Duta Besar Iran untuk Indonesia tahun 1991, sayangnya ia lupa namanya. Sang Dubes berpendapat orang yang memiliki kelemahan fisik di inderanya, maka ia memiliki kelebihan di tempat lain. Indra penglihatan Gus Dur sejak lama sudah lemah, dengan ukuran minus 23.
“Ingatannya sangat kuat, joke-joke sudah seperti kamus aja,” ujarnya. (mkf)
Ilmu ladunni adalah ilmu yang langsung diperoleh dari Allah, bisa berupa ilham sehingga jika seseorang memiliki ilmu ini, ia tak perlu belajar karena Allah telah memberikan pengetahuan secara langsung kepada orang yang hatinya bersih karena jiwa yang bersih dapat berkomunikasi langsung dengan sumber ilmu, yaitu Allah.
Istilah ilmu ladunni berasal dari sebuah ayat Qur’an, diambil dari kalimat 'minladunna ilman', ... ilmu yang berasal dari sisi Kami (Allah) tercantum dalam QS. Al Kahfi : 65
"..lalu mereka bertemu dengan seorang hamba diantara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami".
Ayat ini menceritakan kisah pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidir dalam sebuah perjalanan dan Khidir menunjukkan sejumlah rahasia dan hikmah dibalik sebuah peristiwa yang tidak diketahui oleh Musa.
Jika seorang mukmin telah diberi ilmu ini, maka ia dapat mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi, baik pada masa sekarang atau yang akan datang, dengan firasat tajam yang dimilikinya.
Sebagian kiai di lingkungan Nahdlatul Ulama percaya bahwa Gus Dur merupakan orang yang diberi keberkahan oleh Allah dengan ilmu ladunni sehingga bisa memiliki ilmu pengetahuan yang sangat luas tanpa susah-susah belajar atau mampu meramalkan masa depan.
Keyakinan para kiai akan ilmu ladunni Gus Dur ini diungkapkan oleh mantan ketua PBNU H Mustofa Zuhad Mughni karena Gus Dur memiliki keikhlasan yang luar biasa dan tidak menjalankan maksiat.
Akan kemampuan otak Gus Dur, ia sering membuktikan sendiri. seringkali sehabis pulang dari luar negeri, Gus Dur membawa buku-buku baru, yang masih terbungkus rapi. Kemudian, buku tersebut diserahkan kepadanya untuk dibaca. Seminggu kemudian, ia mengembalikan buku tersebut, dan hanya dengan melihat daftar isi, referensi dan kesimpulan, Gus Dur sudah mampu mengajak diskusi isi buku tersebut.
“Gus Dur sudah paham isinya semua, padahal kita harus baca penuh,” katanya.
Menurutnya, kamampuan ilmu Gus Dur ini lebih dari jenius karena gabungan dari daya ingat yang kuat dan analis tajam. “Bacaannya banyak, ingatannya juga kuat,”
Salah satu bukti kuatnya ingatan Gus Dur adalah ia mampu mengingat lebih dari 2000 nomor telepon. Saat sekretaris pribadinya masih mencari sebuah nomor telepon di buku catatan, Gus Dur dengan enteng langsung menyebutkan nomornya. Daya ingat Gus Dur ini mulai menurun ketika kapalanya harus di opeasi akibat stroke.
Mustofa Zuhad juga menuturkan, dalam pertemuannya dengan Duta Besar Iran untuk Indonesia tahun 1991, sayangnya ia lupa namanya. Sang Dubes berpendapat orang yang memiliki kelemahan fisik di inderanya, maka ia memiliki kelebihan di tempat lain. Indra penglihatan Gus Dur sejak lama sudah lemah, dengan ukuran minus 23.
“Ingatannya sangat kuat, joke-joke sudah seperti kamus aja,” ujarnya. (mkf)
Pesan Gus Dur, Saatnya Santri dan Abangan Bersatu
Kamis, 10 Maret 2011 07:52
Kamis, 10 Maret 2011 07:52
Jakarta, NU Online
Salah satu pesan Gus Dur kepada generasi muda adalah menyatukan seluruh komponen bangsa yang terpecah dalam berbagai kelompok sosial untuk memajukan Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat.
Dalam satu kesempatan, santri Gus Dur, Nuruddin Hidayat mendapat pesan agar berjuang untuk menyatukan golongan santri dan abangan, yang selama ini secara psikologis terpisah, sebagai fihak yang rajin mengamalkan ajaran Islam dan golongan yang lebih dekat dengan ajaran kebatinan dan cenderung sekuler.
Pesan ini bermula ketika ia mengantarkan tamu, seorang seniman asal Kudus, untuk bertemu Gus Dur, dengan maksud mencari dukungan dalam pembangunan Taman Budaya Kudus.
Si Seniman juga menuturkan bahwa yang menjadi ikon dari Taman Budaya tersebut bukanlah Sunan Kudus, tetapi RM Sosrokartono, kakak pertama dari RA Kartini, yang juga merupakan tokoh spiritual Jawa.
Gus Dur sangat mengapresiasi usulan itu, ia merasa tidak asing dengan Sosrokartono yang memiliki banyak kelebihan spiritual dan mampu menyatukan antara ilmu kebatinan dan ajaran spiritual dengan ilmu modern.
“Sudah waktunya santri dan abangan bersatu, dan ini tugas kalian yang muda-muda,” pesan Gus Dur, yang masih terus diingatnya sampai sekarang.
Tak banyak orang yang mengenal Sosrokartono, meskipun bagi Gus Dur, figur ini sudah cukup akrab. Ia merupakan intelektual yang disegani di Eropa di tahun 1900-an. Ia kerap dipanggil dengan sebutan De Javanese Prins Pangeran dari Tanah Jawa atau si jenius dari Timur.
Sosrokartono merupakan seorang poliglot, atau ahli dalam banyak bahasa. Ia menguasai 24 bahasa asing dan 10 bahasa suku di Nusantara. Kemampuan berbahasanya ini ditunjang oleh pendidikannya di jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur di Leiden. Ia merupakan mahasiswa pertama asal Nusantara.
Saat Perang Dunia I, ia menjadi wartawan dari the New York Herald Tribune, dengan gaji 1250 Dollar, yang bisa dikatakan cukup mewah untuk ukuran saat itu.
Setelah berkelana di Eropa selama 29 tahun, ia pulang ke Jawa, ikut dalam gerakan kebangkitan nasional bersama Soekarno, bahkan dianggap sebagai guru Proklamator ini.
Rasa nasionalismenya dapat dilacak dalam pidato berjudul Het Nederlandsch in Indie (Bahasa Belanda di Indonesia), pada sebuah konferensi di Nederland, Kartono antara lain mengungkapkan
“Dengan tegas saya menyatakan diri saya sebagai musuh dari siapa pun yang akan membikin kita (Hindia Belanda) menjadi bangsa Eropa atau setengah Eropa dan akan menginjak-injak tradisi serta adat kebiasaan kita yang luhur lagi suci. Selama matahari dan rembulan bersinar, mereka akan saya tantang!”
Setelah kembali ke Jawa, ia banyak menjalani tirakat, berpuasa dan tidak tidur selama berhari-hari, biasanya sampai 40 hari lebih. Dengan kemampuan spiritualnya, ia membuka rumah pengobatan di Bandung, hanya dengan air putih, dan rajah bertuliskan alif, banyak orang disembuhkan dari penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh para dokter.
Pada hari Jum'at Pahing, 8 Februari 1952 di rumah Jl Pungkur No 19 Bandung, Sosrokartono kembali ke Sang Pencipta dengan tenang, tentram tanpa meninggalkan istri dan anak. Ia dimakamkan di Sedo Mukti, Desa Kaliputu, Kudus, Jawa Tengah. Di sebelah kiri makam Kartono terdapat makam ibunya Nyai Ngasirah dan bapaknya RMA Sosroningrat.
Salah satu prinsip yang dipegang teguh, dan dipahat di nisannya adalah sugih tanpa banda / digdaya tanpa aji /nglurug tanpa bala /menang tanpa ngasorake” (kaya tanpa harta/ sakti tanpa azimat/ menyerbu tanpa pasukan/ menang tanpa merendahkan yang dikalahkan)
Di nisan sebelah kanan tercantum kalimat Trimah mawi pasrah (rela menyerah terhadap keadaan yang telah terjadi), suwung pamrih tebih ajrih (jika tak berniat jahat, tidak perlu takut), langgeng tan ana susah tan ana bungah (tetap tenang, tidak kenal duka maupun suka), anteng manteng sugeng jeneng (diam sungguh-sungguh, maka akan selamat sentosa). (mkf)
Salah satu pesan Gus Dur kepada generasi muda adalah menyatukan seluruh komponen bangsa yang terpecah dalam berbagai kelompok sosial untuk memajukan Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat.
Dalam satu kesempatan, santri Gus Dur, Nuruddin Hidayat mendapat pesan agar berjuang untuk menyatukan golongan santri dan abangan, yang selama ini secara psikologis terpisah, sebagai fihak yang rajin mengamalkan ajaran Islam dan golongan yang lebih dekat dengan ajaran kebatinan dan cenderung sekuler.
Pesan ini bermula ketika ia mengantarkan tamu, seorang seniman asal Kudus, untuk bertemu Gus Dur, dengan maksud mencari dukungan dalam pembangunan Taman Budaya Kudus.
Si Seniman juga menuturkan bahwa yang menjadi ikon dari Taman Budaya tersebut bukanlah Sunan Kudus, tetapi RM Sosrokartono, kakak pertama dari RA Kartini, yang juga merupakan tokoh spiritual Jawa.
Gus Dur sangat mengapresiasi usulan itu, ia merasa tidak asing dengan Sosrokartono yang memiliki banyak kelebihan spiritual dan mampu menyatukan antara ilmu kebatinan dan ajaran spiritual dengan ilmu modern.
“Sudah waktunya santri dan abangan bersatu, dan ini tugas kalian yang muda-muda,” pesan Gus Dur, yang masih terus diingatnya sampai sekarang.
Tak banyak orang yang mengenal Sosrokartono, meskipun bagi Gus Dur, figur ini sudah cukup akrab. Ia merupakan intelektual yang disegani di Eropa di tahun 1900-an. Ia kerap dipanggil dengan sebutan De Javanese Prins Pangeran dari Tanah Jawa atau si jenius dari Timur.
Sosrokartono merupakan seorang poliglot, atau ahli dalam banyak bahasa. Ia menguasai 24 bahasa asing dan 10 bahasa suku di Nusantara. Kemampuan berbahasanya ini ditunjang oleh pendidikannya di jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur di Leiden. Ia merupakan mahasiswa pertama asal Nusantara.
Saat Perang Dunia I, ia menjadi wartawan dari the New York Herald Tribune, dengan gaji 1250 Dollar, yang bisa dikatakan cukup mewah untuk ukuran saat itu.
Setelah berkelana di Eropa selama 29 tahun, ia pulang ke Jawa, ikut dalam gerakan kebangkitan nasional bersama Soekarno, bahkan dianggap sebagai guru Proklamator ini.
Rasa nasionalismenya dapat dilacak dalam pidato berjudul Het Nederlandsch in Indie (Bahasa Belanda di Indonesia), pada sebuah konferensi di Nederland, Kartono antara lain mengungkapkan
“Dengan tegas saya menyatakan diri saya sebagai musuh dari siapa pun yang akan membikin kita (Hindia Belanda) menjadi bangsa Eropa atau setengah Eropa dan akan menginjak-injak tradisi serta adat kebiasaan kita yang luhur lagi suci. Selama matahari dan rembulan bersinar, mereka akan saya tantang!”
Setelah kembali ke Jawa, ia banyak menjalani tirakat, berpuasa dan tidak tidur selama berhari-hari, biasanya sampai 40 hari lebih. Dengan kemampuan spiritualnya, ia membuka rumah pengobatan di Bandung, hanya dengan air putih, dan rajah bertuliskan alif, banyak orang disembuhkan dari penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh para dokter.
Pada hari Jum'at Pahing, 8 Februari 1952 di rumah Jl Pungkur No 19 Bandung, Sosrokartono kembali ke Sang Pencipta dengan tenang, tentram tanpa meninggalkan istri dan anak. Ia dimakamkan di Sedo Mukti, Desa Kaliputu, Kudus, Jawa Tengah. Di sebelah kiri makam Kartono terdapat makam ibunya Nyai Ngasirah dan bapaknya RMA Sosroningrat.
Salah satu prinsip yang dipegang teguh, dan dipahat di nisannya adalah sugih tanpa banda / digdaya tanpa aji /nglurug tanpa bala /menang tanpa ngasorake” (kaya tanpa harta/ sakti tanpa azimat/ menyerbu tanpa pasukan/ menang tanpa merendahkan yang dikalahkan)
Di nisan sebelah kanan tercantum kalimat Trimah mawi pasrah (rela menyerah terhadap keadaan yang telah terjadi), suwung pamrih tebih ajrih (jika tak berniat jahat, tidak perlu takut), langgeng tan ana susah tan ana bungah (tetap tenang, tidak kenal duka maupun suka), anteng manteng sugeng jeneng (diam sungguh-sungguh, maka akan selamat sentosa). (mkf)
GUS DUR WALI (16)
Makna Mimpi Gus Dur Bikin Pil KB
Rabu, 9 Maret 2011 11:07
Makna Mimpi Gus Dur Bikin Pil KB
Rabu, 9 Maret 2011 11:07
Jakarta, NU Online
Mimpi bagi kebanyakan orang hanyalah kembang tidur yang tidak memiliki arti, tetapi bagi orang tertentu, mimpi merupakan bentuk isyarat akan sebuah kejadian besar di masa depan.
Kisah mimpi yang sangat terkenal dalam al Qur’an adalah kemampuan Nabi Yusuf dalam menafsirkan mimpi Fir’aun, tentang tujuh ekor sapi gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus, yang ditafsirkan oleh Nabi Yusuf berupa tujuh tahun zaman kelimpahan pangan dan tujuh tahun masa paceklik. Tafsir itu dijadikan kebijakan negara sehingga Mesir selamat menghadapi situasi sulit.
Mimpi-mimpi yang memiliki makna ini juga masih terjadi sampai sekarang. Santri Gus Dur, Nuruddin Hidayat, menceritakan mimpi salah satu kenalan Gus Dur Ibu Arifin, yang juga hobi berziarah ke berbagai makam keramat seperti Gus Dur.
Waktu itu, Gus Dur masih menjadi ketua umum PBNU dan Ibu Arifin cukup sering mengunjunginya di gedung PBNU.
Suatu malam dalam tidurnya, Ibu Arifin bermimpi melihat Gus Dur sedang membikin pil KB. Karena merasa mendapat mimpi yang aneh dan tidak biasa, ia kemudian berusaha menanyakan kepada Gus Dur, barangkali ada tafsiran dari mimpi tersebut.
“Gus jenengan niki kok damel pil KB, nopo maksude (Gus, anda kok membikin Pil KB, apa maksudnya),”
Gus Dur tak banyak berkomentar, hanya menjawab “Mosok kulo damel pil KB” (Masak saja bikin Pil KB”.
Tak sampai setahun kemudian, makna mimpi tersebut terbukti, ternyata Gus Dur membikin Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang bunyi dan namanya mirip, Pil (P) KB. (mkf)
Mimpi bagi kebanyakan orang hanyalah kembang tidur yang tidak memiliki arti, tetapi bagi orang tertentu, mimpi merupakan bentuk isyarat akan sebuah kejadian besar di masa depan.
Kisah mimpi yang sangat terkenal dalam al Qur’an adalah kemampuan Nabi Yusuf dalam menafsirkan mimpi Fir’aun, tentang tujuh ekor sapi gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus, yang ditafsirkan oleh Nabi Yusuf berupa tujuh tahun zaman kelimpahan pangan dan tujuh tahun masa paceklik. Tafsir itu dijadikan kebijakan negara sehingga Mesir selamat menghadapi situasi sulit.
Mimpi-mimpi yang memiliki makna ini juga masih terjadi sampai sekarang. Santri Gus Dur, Nuruddin Hidayat, menceritakan mimpi salah satu kenalan Gus Dur Ibu Arifin, yang juga hobi berziarah ke berbagai makam keramat seperti Gus Dur.
Waktu itu, Gus Dur masih menjadi ketua umum PBNU dan Ibu Arifin cukup sering mengunjunginya di gedung PBNU.
Suatu malam dalam tidurnya, Ibu Arifin bermimpi melihat Gus Dur sedang membikin pil KB. Karena merasa mendapat mimpi yang aneh dan tidak biasa, ia kemudian berusaha menanyakan kepada Gus Dur, barangkali ada tafsiran dari mimpi tersebut.
“Gus jenengan niki kok damel pil KB, nopo maksude (Gus, anda kok membikin Pil KB, apa maksudnya),”
Gus Dur tak banyak berkomentar, hanya menjawab “Mosok kulo damel pil KB” (Masak saja bikin Pil KB”.
Tak sampai setahun kemudian, makna mimpi tersebut terbukti, ternyata Gus Dur membikin Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang bunyi dan namanya mirip, Pil (P) KB. (mkf)
GUS DUR WALI (15)
Gus Dur Bisa Me-Raga Sukma Dirinya
Selasa, 8 Maret 2011 18:27
Gus Dur Bisa Me-Raga Sukma Dirinya
Selasa, 8 Maret 2011 18:27
Jakarta, NU Online
Dunia kewalian adalah dunia yang memiliki banyak dimensi. Dunia kewalian seringkali tidak dapat diterima nalar sehat manusia normal. Karenanya dunia kewalian seringkali pula diidentikkan dengan dunia mistis.
Biasanya para santri (penganut agama yang taat), sejak zaman Hindu, Budha hingga zaman Islam di Indonesia membedakan kepemilikan dan perilaku keilmuan mistik ke dalam dua kategori, yakni kategori ilmu putih dan ilmu hitam. Sejak dahulu kala, ilmu hitam biasa disebut untuk mensifati (mengidentifikasi) keunggulan-keunggulan para tokoh penjahat. Sedangkan kemampuan dan keistimewaan-keistimewaan para tokoh kebaikan, para pahlawan dan para manusia suci.
Kelebihan-kelebihan (maziyyah) ini ibarat "piranti lunak" yang wajib dimiliki oleh bukan hanya tokoh spiritual, namun juga para pemimpin di dalam masyarakat. Begitulah keyakinan masyarakat terpatri dengan kuat, dari yang masih berpola tradisional hingga mereka yang telah menjadi manusia modern.
Mantan Ketua Umum PBNU tiga kali berturut-turut KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai salah seorang tokoh dan pemimpin bangsa, diyakini oleh banyak kalangan memiliki berbagai "piranti lunak" yang dapat dijadikan salah satu alasan untuk mengkategorikannya ke dalam lingkungan para wali. Salah satunya adalah kemampuannya untuk meraga sukma, yakni sebuah kemampuan berada di banyak tempat dalam waktu bersamaan.
Beberapa orang mengaku pernah membuktikan ilmu Raga Sukma Gus Dur ini. Berbagai cerita menyebutkan bahwa pada waktu yang sama, banyak orang mengaku bertemu dan bercengkrama dengan Gus Dur pada waktu yang sama. Salah satunya adalah cerita para Banser yang sedang menjaga Gus Dur ketika terbaring sakit di Rumah Sakit Koja Jakarta Utara.
Pada sekitar tahun 1994-an, kala itu Gus Dur Sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Koja Jakarta Utara yang pada masa itu dipimpin oleh adik kandungnya, Umar Wahid. Gus Dur sedang terbaring di kamar dengan dijaga oleh dua orang Banser, seorang banser tampaknya bertindak sebagai komandan. Bila malam hari, kedua Banser ini berjaga bergiliran, salah satu tidur dan seorang lainnya terjaga.
Hingga pada suatu ketika, seorang yang bertindak sebagai komandan berkata pada temannya, "Saya keluar sebentar, tolong jaga Pak Kyai dengan baik. Tidak lama, saya segera kembali." Dia pun segera berlalu.
"Siap!" Jawab sang Banser dengan bersemangat. Sepeninggal temannya, dia pun segera masuk ke kamar perawatan dan duduk di sebelah Gus Dur yang sedang terbaring di atas tempat tidur.
Tidak berapa lama, Gus Dur terbangun dari tidurnya dan mengajaknya keluar mencari udara segar. Dengan tertatih Gus Dur mengajaknya berziarah ke Makam Habib Husein al-Haddad di dekat pintu Pelabuhan Indonesia (Pelindo). Letak makam tersebut hanya berjarak sekitar 400 meter di seberang Jalan Raya Pelabuhan di depan Rumah Sakit Koja.
Sang Banser pun dengan setia mengikuti Gus Dur yang berjalan tertatih-tatih. Seusai berziarah dan memanjatkan doa, sang Banser pun mengiringkan Gus Dur untuk kembali ke kamarnya. Setelah Gus Dur kembali beristirahat dan tidur, dia pun keluar ruangan.
Namun alangkah kagetnya ketika dia keluar ruangan. Dia mendapati temannya yang tadi keluar sedang menunggunya dengan muka masam, laksana komandan yang menunggu laporan kekalahan dari bawahannya. Dengan menghardik, sang banser yang berlaku sebagai komandan ini berkata, "Dari mana saja kamu, disuruh jaga kok malah keluyuran seenaknya."
Dengan gelagapan sang banser menjawab, "Siap Dan. Dari Mengantar Pak Kyai berziarah."
"Jangan buat alasan yang aneh-aneh. Saya hanya pergi sebentar, lalu kembali. Dari tadi saya lihat Pak Kyai tidur di dalam. Sementara kamu tidak ada." Mereka pun kemudian saling berdebat dan bersitegang tentang penglihatan dan pengalamannya masing-masing.
"Cerita ini adalah ceritanya nyata yang dialami oleh temen-temen Banser di Jakarta Utara," tutur KH Mistakhul Falah salah seorang tokoh NU Jakarta Utara kepada NU Online. (min)
Dunia kewalian adalah dunia yang memiliki banyak dimensi. Dunia kewalian seringkali tidak dapat diterima nalar sehat manusia normal. Karenanya dunia kewalian seringkali pula diidentikkan dengan dunia mistis.
Biasanya para santri (penganut agama yang taat), sejak zaman Hindu, Budha hingga zaman Islam di Indonesia membedakan kepemilikan dan perilaku keilmuan mistik ke dalam dua kategori, yakni kategori ilmu putih dan ilmu hitam. Sejak dahulu kala, ilmu hitam biasa disebut untuk mensifati (mengidentifikasi) keunggulan-keunggulan para tokoh penjahat. Sedangkan kemampuan dan keistimewaan-keistimewaan para tokoh kebaikan, para pahlawan dan para manusia suci.
Kelebihan-kelebihan (maziyyah) ini ibarat "piranti lunak" yang wajib dimiliki oleh bukan hanya tokoh spiritual, namun juga para pemimpin di dalam masyarakat. Begitulah keyakinan masyarakat terpatri dengan kuat, dari yang masih berpola tradisional hingga mereka yang telah menjadi manusia modern.
Mantan Ketua Umum PBNU tiga kali berturut-turut KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai salah seorang tokoh dan pemimpin bangsa, diyakini oleh banyak kalangan memiliki berbagai "piranti lunak" yang dapat dijadikan salah satu alasan untuk mengkategorikannya ke dalam lingkungan para wali. Salah satunya adalah kemampuannya untuk meraga sukma, yakni sebuah kemampuan berada di banyak tempat dalam waktu bersamaan.
Beberapa orang mengaku pernah membuktikan ilmu Raga Sukma Gus Dur ini. Berbagai cerita menyebutkan bahwa pada waktu yang sama, banyak orang mengaku bertemu dan bercengkrama dengan Gus Dur pada waktu yang sama. Salah satunya adalah cerita para Banser yang sedang menjaga Gus Dur ketika terbaring sakit di Rumah Sakit Koja Jakarta Utara.
Pada sekitar tahun 1994-an, kala itu Gus Dur Sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Koja Jakarta Utara yang pada masa itu dipimpin oleh adik kandungnya, Umar Wahid. Gus Dur sedang terbaring di kamar dengan dijaga oleh dua orang Banser, seorang banser tampaknya bertindak sebagai komandan. Bila malam hari, kedua Banser ini berjaga bergiliran, salah satu tidur dan seorang lainnya terjaga.
Hingga pada suatu ketika, seorang yang bertindak sebagai komandan berkata pada temannya, "Saya keluar sebentar, tolong jaga Pak Kyai dengan baik. Tidak lama, saya segera kembali." Dia pun segera berlalu.
"Siap!" Jawab sang Banser dengan bersemangat. Sepeninggal temannya, dia pun segera masuk ke kamar perawatan dan duduk di sebelah Gus Dur yang sedang terbaring di atas tempat tidur.
Tidak berapa lama, Gus Dur terbangun dari tidurnya dan mengajaknya keluar mencari udara segar. Dengan tertatih Gus Dur mengajaknya berziarah ke Makam Habib Husein al-Haddad di dekat pintu Pelabuhan Indonesia (Pelindo). Letak makam tersebut hanya berjarak sekitar 400 meter di seberang Jalan Raya Pelabuhan di depan Rumah Sakit Koja.
Sang Banser pun dengan setia mengikuti Gus Dur yang berjalan tertatih-tatih. Seusai berziarah dan memanjatkan doa, sang Banser pun mengiringkan Gus Dur untuk kembali ke kamarnya. Setelah Gus Dur kembali beristirahat dan tidur, dia pun keluar ruangan.
Namun alangkah kagetnya ketika dia keluar ruangan. Dia mendapati temannya yang tadi keluar sedang menunggunya dengan muka masam, laksana komandan yang menunggu laporan kekalahan dari bawahannya. Dengan menghardik, sang banser yang berlaku sebagai komandan ini berkata, "Dari mana saja kamu, disuruh jaga kok malah keluyuran seenaknya."
Dengan gelagapan sang banser menjawab, "Siap Dan. Dari Mengantar Pak Kyai berziarah."
"Jangan buat alasan yang aneh-aneh. Saya hanya pergi sebentar, lalu kembali. Dari tadi saya lihat Pak Kyai tidur di dalam. Sementara kamu tidak ada." Mereka pun kemudian saling berdebat dan bersitegang tentang penglihatan dan pengalamannya masing-masing.
"Cerita ini adalah ceritanya nyata yang dialami oleh temen-temen Banser di Jakarta Utara," tutur KH Mistakhul Falah salah seorang tokoh NU Jakarta Utara kepada NU Online. (min)
GUS DUR WALI (14)
Gus Dur dan Pencari Puntung Rokok
Senin, 7 Maret 2011 14:02
Gus Dur dan Pencari Puntung Rokok
Senin, 7 Maret 2011 14:02
Jakarta, NU Online
Jenis pekerjaan yang dilakoni oleh seseorang umumnya menunjukkan identitas dan kapabilitas yang dimilikinya. Semakin tinggi jabatan yang dimiliki, orang akan semakin hormat.
Tetapi ada orang tertentu yang menjalani sebuah pekerjaan demi sebuah tugas besar, meskipun dalam pandangan manusia, pekerjaan yang dijalani ini pekerjaan remeh, bahkan terkesan dihinakan.
Kisah Gus Dur dengan pencari puntung rokok, yang dalam bahasa Jawa biasa disebut ngolei tegesan, masih menjadi bagian dari pengalaman pribadi yang dituturkan oleh santri Gus Dur, Nuruddin Hidayat. Kisah penuh nilai-nilai moral ini bercerita tentang sebuah komitmen besar mencari sosok pemimpin bangsa yang tegas.
Nuruddin, yang biasa dipanggil Udin ini bercerita, kisah pertemuanya dengan sosok pencari puntung rokok yang dihormati Gus Dur ini bermula ketika ia pulang kampung di Demak, beberapa tahun lalu pada momentum lebaran.
Saat di rumah, ia menyempatkan diri untuk silaturrahmi kepada Kiai Hambali di Lasem, salah satu kiai disana yang cukup disegani masyarakat. Saat pulang dari rumah kiai tersebut, ada satu orang yang ingin menumpang kendaraan karena ingin pergi ke masjid Menara Kudus.
Bersama orang itulah, dalam perjalanan pulang, ia diajak ke rumah pencari puntung rokok yang posisi rumahnya di perbatasan Kudus dan Jepara. Sayangnya, pertemuan tersebut gagal karena tuan rumah sedang melawat ke cucunya yang meninggal akibat kecelakaan.
Esoknya, ia sendirian kembali mengunjungi orang tersebut, sebut saja Mbah SN, yang dikampungnya dikenal sebagai dukun Jawa, yang bisa mengobati sakit ringan, seperti sakit anak-anak yang rewel karena diganggu makhluk halus.
Karena pekerjaannya hanya sebagai pencari puntung rokok, kondisi rumahnya juga sangat memprihatinkan. Rumah yang dihuni layaknya gubuk, terdapat sebuah kandang kambing di sebelah rumah, sebuah sumur kuno dan langgar yang sudah mau roboh.
Dalam pertemuan tersebut, ia mengaku dari pesantren Ciganjur, santrinya Gus Dur dan bercerita panjang lebar soal pesantren dan Gus Dur. Ketika pamit pulang, orang tersebut titip salam buat Gus Dur.
Pasca Lebaran, ketika kembali ke pesantren Ciganjur, Udin menceritakan pertemuannya dengan pencari puntung rokok Mbah SN ini dengan Gus Dur, tentang rumahnya yang sederhana dan langgar yang mau roboh.
Langsung saja Gus Dur motong, “Oh ya, ada orang seperti itu di perbatasan Kudus dan Jepara. Yo wis kapan-kapan kita ke sana”
Gus Dur selanjutnya menjelaskan perilaku orang yang mendedikasikan diri untuk mencari puntung rokok. “Niku pendamelane pados tegesan, itu artinya, dia mencari pemimpin yang tegas, nek wis ketemu yo mari (kalau sudah ketemu orangnya, ia berhenti mencari puntung.”
Sayangnya, sampai akhir hayat, Gus Dur belum sempat untuk bersilaturrahmi dengan mengunjungi rumah Mbah SN.
Di lain waktu, Udin kembali menyempatkan diri berkunjung ke rumah Mbah SN dan disela-sela obrolannya, ia menanyakan, apa pernah bertemu dengan Gus Dur, Mbah SN pun menjawab “Yo tau (ya pernah)
Tetapi ketika ditanya bagaimana bisa bertemu dengan Gus Dur dalam kondisinya yang seperti itu, ia tak menjawab, hanya tertawa saja.
Ketika Pilgub Jawa Tengah, Udin juga menanyakan kemungkinan menang-kalahnya satu kandidat yang akan maju, yang kebetulan berkultur NU. Orang tersebut juga mampu menjawab dengan tepat. (mkf)
Jenis pekerjaan yang dilakoni oleh seseorang umumnya menunjukkan identitas dan kapabilitas yang dimilikinya. Semakin tinggi jabatan yang dimiliki, orang akan semakin hormat.
Tetapi ada orang tertentu yang menjalani sebuah pekerjaan demi sebuah tugas besar, meskipun dalam pandangan manusia, pekerjaan yang dijalani ini pekerjaan remeh, bahkan terkesan dihinakan.
Kisah Gus Dur dengan pencari puntung rokok, yang dalam bahasa Jawa biasa disebut ngolei tegesan, masih menjadi bagian dari pengalaman pribadi yang dituturkan oleh santri Gus Dur, Nuruddin Hidayat. Kisah penuh nilai-nilai moral ini bercerita tentang sebuah komitmen besar mencari sosok pemimpin bangsa yang tegas.
Nuruddin, yang biasa dipanggil Udin ini bercerita, kisah pertemuanya dengan sosok pencari puntung rokok yang dihormati Gus Dur ini bermula ketika ia pulang kampung di Demak, beberapa tahun lalu pada momentum lebaran.
Saat di rumah, ia menyempatkan diri untuk silaturrahmi kepada Kiai Hambali di Lasem, salah satu kiai disana yang cukup disegani masyarakat. Saat pulang dari rumah kiai tersebut, ada satu orang yang ingin menumpang kendaraan karena ingin pergi ke masjid Menara Kudus.
Bersama orang itulah, dalam perjalanan pulang, ia diajak ke rumah pencari puntung rokok yang posisi rumahnya di perbatasan Kudus dan Jepara. Sayangnya, pertemuan tersebut gagal karena tuan rumah sedang melawat ke cucunya yang meninggal akibat kecelakaan.
Esoknya, ia sendirian kembali mengunjungi orang tersebut, sebut saja Mbah SN, yang dikampungnya dikenal sebagai dukun Jawa, yang bisa mengobati sakit ringan, seperti sakit anak-anak yang rewel karena diganggu makhluk halus.
Karena pekerjaannya hanya sebagai pencari puntung rokok, kondisi rumahnya juga sangat memprihatinkan. Rumah yang dihuni layaknya gubuk, terdapat sebuah kandang kambing di sebelah rumah, sebuah sumur kuno dan langgar yang sudah mau roboh.
Dalam pertemuan tersebut, ia mengaku dari pesantren Ciganjur, santrinya Gus Dur dan bercerita panjang lebar soal pesantren dan Gus Dur. Ketika pamit pulang, orang tersebut titip salam buat Gus Dur.
Pasca Lebaran, ketika kembali ke pesantren Ciganjur, Udin menceritakan pertemuannya dengan pencari puntung rokok Mbah SN ini dengan Gus Dur, tentang rumahnya yang sederhana dan langgar yang mau roboh.
Langsung saja Gus Dur motong, “Oh ya, ada orang seperti itu di perbatasan Kudus dan Jepara. Yo wis kapan-kapan kita ke sana”
Gus Dur selanjutnya menjelaskan perilaku orang yang mendedikasikan diri untuk mencari puntung rokok. “Niku pendamelane pados tegesan, itu artinya, dia mencari pemimpin yang tegas, nek wis ketemu yo mari (kalau sudah ketemu orangnya, ia berhenti mencari puntung.”
Sayangnya, sampai akhir hayat, Gus Dur belum sempat untuk bersilaturrahmi dengan mengunjungi rumah Mbah SN.
Di lain waktu, Udin kembali menyempatkan diri berkunjung ke rumah Mbah SN dan disela-sela obrolannya, ia menanyakan, apa pernah bertemu dengan Gus Dur, Mbah SN pun menjawab “Yo tau (ya pernah)
Tetapi ketika ditanya bagaimana bisa bertemu dengan Gus Dur dalam kondisinya yang seperti itu, ia tak menjawab, hanya tertawa saja.
Ketika Pilgub Jawa Tengah, Udin juga menanyakan kemungkinan menang-kalahnya satu kandidat yang akan maju, yang kebetulan berkultur NU. Orang tersebut juga mampu menjawab dengan tepat. (mkf)
GUS DUR WALI (11)
Tamu Rahasia Gus Dur pada Tengah Malam
Kamis, 3 Maret 2011 10:49
Tamu Rahasia Gus Dur pada Tengah Malam
Kamis, 3 Maret 2011 10:49
Jakarta, NU Online
Bagi warga NU, mengobrol merupakan kegemaran yang sudah mendarah daging. Banyak diantaranya yang melakukannya sampai tengah malam, di rumah tokoh NU, pesantren, serambi masjid atau tempat lain yang dianggap nyaman.
Gus Dur, mengingat posisinya sebagai tokoh besar, banyak yang ingin mendapat petuah darinya, atau sekedar mendengar cerita ringan dan humor-humor segarnya yang bisa sedikit melupakan masalah pelik yang sedang dihadapi.
Nuruddin Hidayat, salah satu santri Gus Dur, mengaku sering mendampingi Gus Dur bersama dengan beberapa orang dekatnya, untuk sekedar ngobrol-ngobrol ringan di malam hari.
Namun, beberapa kali ia mengalami peristiwa aneh. Ditengah-tengah perbincangan Gus Dur meminta agar orang-orang yang sedang menemaninya untuk sementara keluar dulu karena akan ada tamu ”Tolong keluar dulu, akan ada tamu”.
Satu per satu, semuanya keluar dan Gus Dur ditinggal sendirian.
Karena merasa penasaran, Udin, panggillan akrab Nuruddin menanyakaan ke pos jaga di depan rumah Gus Dur, siapa gerangan tamu yang datang. Tetapi dilihatnya tak ada jadual tamu malam itu. Pertanyaan juga diajukan ke paspamres yang setia mengawal Gus Dur, tetapi tak juga diperolah jawaban yang memuaskan.
Ia tak melihat orang yang masuk gerbang rumah untuk menemui Gus Dur. Semuanya terlihat sunyi, ia terus mengamati, tak terlihat kelebatan orang masuk rumah. Tak ada apapun yang berubah di kesunyian malam itu.
Masih diliputi rasa penasaran, ia kembali terhenyak, Gus Dur sudah memanggil kembali orang-orang yang sebelumnya menemani untuk masuk kembali ke ruangan. Kesendirian Gus Dur tersebut tidak berlangsung lama, kunjungan tamu rahasiannya hanya berlangsung sekitar 15 menit.
Karena keingintahuannya besar, Udin pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Gus Dur, “Siapa Gus tamunya?”
Gus Dur pun enggan menjawab, biasanya hanya bilang “Sesepuh”
Karena masih penasaran ia suatu ketika, pun melanjutkan pertanyaannya dengan lebih detail dan berspekulasi siapa gerangan tamu itu, “Apa Sunan Ampel Gus”
Gus Dur pun menjawab “Sunan Ampel yang paling sering”
Udin mengaku mengalami peristiwa ini tak cukup sekali dua kali, tetapi beberapa kali. Kejadiannya biasanya jam 10.30-11.00 malam ke atas.
Sumber lain mengatakan, tamu rahasia yang juga sering datang ke tempat Gus Dur adalah, Mbah Mutamakkin, kakek buyut Gus Dur, yang makamnya ada di Kajen Pati, yang ketokohannya juga sangat dihormati oleh masyarakat setempat. (bersambung) (mkf)
GUS DUR WALI (8)Bagi warga NU, mengobrol merupakan kegemaran yang sudah mendarah daging. Banyak diantaranya yang melakukannya sampai tengah malam, di rumah tokoh NU, pesantren, serambi masjid atau tempat lain yang dianggap nyaman.
Gus Dur, mengingat posisinya sebagai tokoh besar, banyak yang ingin mendapat petuah darinya, atau sekedar mendengar cerita ringan dan humor-humor segarnya yang bisa sedikit melupakan masalah pelik yang sedang dihadapi.
Nuruddin Hidayat, salah satu santri Gus Dur, mengaku sering mendampingi Gus Dur bersama dengan beberapa orang dekatnya, untuk sekedar ngobrol-ngobrol ringan di malam hari.
Namun, beberapa kali ia mengalami peristiwa aneh. Ditengah-tengah perbincangan Gus Dur meminta agar orang-orang yang sedang menemaninya untuk sementara keluar dulu karena akan ada tamu ”Tolong keluar dulu, akan ada tamu”.
Satu per satu, semuanya keluar dan Gus Dur ditinggal sendirian.
Karena merasa penasaran, Udin, panggillan akrab Nuruddin menanyakaan ke pos jaga di depan rumah Gus Dur, siapa gerangan tamu yang datang. Tetapi dilihatnya tak ada jadual tamu malam itu. Pertanyaan juga diajukan ke paspamres yang setia mengawal Gus Dur, tetapi tak juga diperolah jawaban yang memuaskan.
Ia tak melihat orang yang masuk gerbang rumah untuk menemui Gus Dur. Semuanya terlihat sunyi, ia terus mengamati, tak terlihat kelebatan orang masuk rumah. Tak ada apapun yang berubah di kesunyian malam itu.
Masih diliputi rasa penasaran, ia kembali terhenyak, Gus Dur sudah memanggil kembali orang-orang yang sebelumnya menemani untuk masuk kembali ke ruangan. Kesendirian Gus Dur tersebut tidak berlangsung lama, kunjungan tamu rahasiannya hanya berlangsung sekitar 15 menit.
Karena keingintahuannya besar, Udin pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Gus Dur, “Siapa Gus tamunya?”
Gus Dur pun enggan menjawab, biasanya hanya bilang “Sesepuh”
Karena masih penasaran ia suatu ketika, pun melanjutkan pertanyaannya dengan lebih detail dan berspekulasi siapa gerangan tamu itu, “Apa Sunan Ampel Gus”
Gus Dur pun menjawab “Sunan Ampel yang paling sering”
Udin mengaku mengalami peristiwa ini tak cukup sekali dua kali, tetapi beberapa kali. Kejadiannya biasanya jam 10.30-11.00 malam ke atas.
Sumber lain mengatakan, tamu rahasia yang juga sering datang ke tempat Gus Dur adalah, Mbah Mutamakkin, kakek buyut Gus Dur, yang makamnya ada di Kajen Pati, yang ketokohannya juga sangat dihormati oleh masyarakat setempat. (bersambung) (mkf)
Habib Lutfi: Gus Dur Orang Saleh
Senin, 28 Februari 2011 14:50
Jakarta, NU OnlineKetua Umum Jamiyyah Ahlut Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah Habib Lutfi bin Yahya mengaku tidak bisa menyimpulkan apakah Gus Dur wali atau bukan, tetapi ia yakin Gus Dur orang yang sholeh.
“Yang tahu wali hanya wali dan saya husnudhon billah beliau orang yang sholeh,” katanya seusai memberi tausiyah Maulid Nabi yang diselenggarakan Ansor NU Kamis (17/2) malam lalu.
Ia menjelaskan, kesalehan atau kewalian seseorang tidak bisa diukur atau dibandingkan layaknya emas berapa karat.
“Sholeh ya sholeh, kesalehan seseorang tidak bisa kita ukur, apalagi keauliaan. Tinggal prasangka baik kita, apalagi Gus Dur yang sudah berbuat untuk umat ini, untuk bangsa ini,” tandasnya.
Bagi banyak orang, Habib Lutfi sendiri dianggap sebagai wali, entah benar atau salah, tetapi dalam setiap pengajian yang dihadirinya, massa selalu berusaha memberi hormat kepadanya dengan mencium tangannya.
Dalam Munas Jatman yang dihadiri oleh Presiden SBY, yang berlangsung Juni, 2008 lalu di Asrama Haji Pondok Gede, para tukang foto mengeluh jualannya tidak laku untuk pose-pose yang berdampingan dengan Presiden sebagaimana biasanya. Para peserta ternyata lebih memilih berfoto bersama Habib Lutfi. Ia lebih dihormati daripada pejabat tertinggi negara. (mkf)
GUS DUR WALI (6)
Yenny Wahid Jadi Saksi Banyak Peristiwa di Luar Nalar
Jumat, 25 Februari 2011 13:40
Yenny Wahid Jadi Saksi Banyak Peristiwa di Luar Nalar
Jumat, 25 Februari 2011 13:40
Jakarta, NU Online
Wali atau bukan wali, hanya Allah yang tahu dan diantara sesama komunitas wali itu sendiri, tetapi paling tidak, keluarga terdekat bisa menjadi saksi banyak peristiwa yang mampu dilakukan oleh tokoh yang dipercaya sebagai wali.
Yenny Wahid, putri Gus Dur mengaku menyaksikan banyak peristiwa yang terjadi di pada diri bapaknya yang sulit dipahami akal rasional. “Tetapi saya tidak bisa mengatakan lebih dari itu,” katanya ketika ditemui NU Online dalam acara palantikan Ansor di Jakarta, Kamis (24/2) malam.
Namun ia mengakui diantara kemampuan Gus Dur yang tidak dimiliki manusia pada umumnya adalah melihat kejadian-kejadian di masa yang akan datang yang kemudian diceritakan kepada keluarganya.
“Kalau dulu, beliau sering ngendikan (bercerita), beberapa bulan kemudian baru kejadian. Banyak hal dan macem-macem. Paling gampang soal bencana alam, beliau mengatakan, beberapa bulan lagi akan ada gempa bumi, dan betul kejadian. Macem-macem lah,” katanya.
Untuk saat ini, setelah Gus Dur meninggal, Yenny mengaku masih sering bermimpi bertemu ayahnya. Pengakuan yang sama juga diperoleh Yenny dari teman-teman lama Gus Dur yang merasa sering didatangi dalam mimpi. Menjelang Muktamar NU atau muktamar PKB Gus Dur yang digagasnya, ia mengaku bertemu Gus Dur.
“Gus Dur rawuh (datang) di teman-teman beliau, bahkan ketika mau muktamar (PKB Gus Dur.red), itu beliau rawuh di beberapa orang, sangat jelas. Ada kiai yang diminta untuk membantu,” katanya.
Yenny merasa, meskipun sudah meninggal, sambung rasa masih terasa dan Gus Dur masih memperhatikan. “Beliau masih mempunyai kemampuan untuk membantu dan menolong yang masih hidup, saya merasa seperti itu,” ujarnya.
Ia jua menceritakan, ketika makam Gus Dur mau ambles, ia bermimpi ketemu Gus Dur sedang di Makkah.
Namun demikian, dalam mimpi-mimpinya tersebut, tak ada pesan yang secara langsung disampaikan, semuanya harus ditafsirkan sendiri.
“Kita mengertikan sendiri, tetapi gambarannya seperti itu. Beliau rawuh, atau kadang cuma ketawa khasnya Gus Gur gitu saja,”
Wali atau bukan wali, hanya Allah yang tahu dan diantara sesama komunitas wali itu sendiri, tetapi paling tidak, keluarga terdekat bisa menjadi saksi banyak peristiwa yang mampu dilakukan oleh tokoh yang dipercaya sebagai wali.
Yenny Wahid, putri Gus Dur mengaku menyaksikan banyak peristiwa yang terjadi di pada diri bapaknya yang sulit dipahami akal rasional. “Tetapi saya tidak bisa mengatakan lebih dari itu,” katanya ketika ditemui NU Online dalam acara palantikan Ansor di Jakarta, Kamis (24/2) malam.
Namun ia mengakui diantara kemampuan Gus Dur yang tidak dimiliki manusia pada umumnya adalah melihat kejadian-kejadian di masa yang akan datang yang kemudian diceritakan kepada keluarganya.
“Kalau dulu, beliau sering ngendikan (bercerita), beberapa bulan kemudian baru kejadian. Banyak hal dan macem-macem. Paling gampang soal bencana alam, beliau mengatakan, beberapa bulan lagi akan ada gempa bumi, dan betul kejadian. Macem-macem lah,” katanya.
Untuk saat ini, setelah Gus Dur meninggal, Yenny mengaku masih sering bermimpi bertemu ayahnya. Pengakuan yang sama juga diperoleh Yenny dari teman-teman lama Gus Dur yang merasa sering didatangi dalam mimpi. Menjelang Muktamar NU atau muktamar PKB Gus Dur yang digagasnya, ia mengaku bertemu Gus Dur.
“Gus Dur rawuh (datang) di teman-teman beliau, bahkan ketika mau muktamar (PKB Gus Dur.red), itu beliau rawuh di beberapa orang, sangat jelas. Ada kiai yang diminta untuk membantu,” katanya.
Yenny merasa, meskipun sudah meninggal, sambung rasa masih terasa dan Gus Dur masih memperhatikan. “Beliau masih mempunyai kemampuan untuk membantu dan menolong yang masih hidup, saya merasa seperti itu,” ujarnya.
Ia jua menceritakan, ketika makam Gus Dur mau ambles, ia bermimpi ketemu Gus Dur sedang di Makkah.
Namun demikian, dalam mimpi-mimpinya tersebut, tak ada pesan yang secara langsung disampaikan, semuanya harus ditafsirkan sendiri.
“Kita mengertikan sendiri, tetapi gambarannya seperti itu. Beliau rawuh, atau kadang cuma ketawa khasnya Gus Gur gitu saja,”
GUS DUR WALI (3)
Jasad Gus Dur Sangat Manusiawi
Selasa, 22 Februari 2011 12:12
Jasad Gus Dur Sangat Manusiawi
Selasa, 22 Februari 2011 12:12
Jakarta, NU Online
Setelah empat kali mengalami pengurukan akibat longsor dalam setahun, makam Gus Dur semakin ramai di kunjungi para peziarah. Hiruk pikuk dan kehebohan masyarakat menyikapi fenomena longsornya makam mantan Presiden Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid terus berlanjut.
Setalah berbagai kalangan mengutarakan pendapatnya mengenai pertanda kewalian Gus Dur, kini giliran para santrinya di Pesantren Ciganjur yang angkat bicara. Para santri di Pesantren Ciganjur inilah yang dahulu memandikan jenazahnya, kala Gus Dur sang pengasuh para santri ini dipanggil menghadap Sang Khaliq.
"Waktu para santri memandikan jenazahnya, jasad Gus Dur kelihatan sangat manusiawi. Kulitnya cerah, seperti biasa waktu beliau kami sering mengajar santri-santrinya," tutur Mahbib salah seorang santri yang dulu turut memandikan.
Sementara para santri lain menceritakan kepada NU Online, Selasa (21/2), sewaktu memandikan Gus Dur para santri melihat jasad Gus Dur dalam ekspresi yang wajar. Tidak tampak pucat tidak pula seperti orang mati.
Menurut Mahbib, para santri bergiliran memandikan di samping rumah sebelum jenazah disemayamkan di ruang tengah untuk disholatkan secara bergiliran pula. Sholat Jenazah untuk Gus dur di kediaman Ciganjur sendiri, berlangsung berkali-kali sejak dimandikan hingga sebelum diberangkatkan menuju Bandara Halim Perdana Kusuma. Dari Bandara Halim Perdana Kusuma ini jenazah kemudian diterbangkan ke peristirahatan terakhirnya di Tebuireng Jombang.
"Tidak terhitung berapa kali sholat dilakukan bergantian. Para jamaa terus berduyun-duyun sholat di hadapan jenazah. Sementara mereka yang tidak bisa masuk, lalu melaksanakan sholat jenazah di Masjid al-Munawwaroh," tutur Ahsin, imam Masjid al-Munawwaroh Ciganjur. (min)
Setelah empat kali mengalami pengurukan akibat longsor dalam setahun, makam Gus Dur semakin ramai di kunjungi para peziarah. Hiruk pikuk dan kehebohan masyarakat menyikapi fenomena longsornya makam mantan Presiden Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid terus berlanjut.
Setalah berbagai kalangan mengutarakan pendapatnya mengenai pertanda kewalian Gus Dur, kini giliran para santrinya di Pesantren Ciganjur yang angkat bicara. Para santri di Pesantren Ciganjur inilah yang dahulu memandikan jenazahnya, kala Gus Dur sang pengasuh para santri ini dipanggil menghadap Sang Khaliq.
"Waktu para santri memandikan jenazahnya, jasad Gus Dur kelihatan sangat manusiawi. Kulitnya cerah, seperti biasa waktu beliau kami sering mengajar santri-santrinya," tutur Mahbib salah seorang santri yang dulu turut memandikan.
Sementara para santri lain menceritakan kepada NU Online, Selasa (21/2), sewaktu memandikan Gus Dur para santri melihat jasad Gus Dur dalam ekspresi yang wajar. Tidak tampak pucat tidak pula seperti orang mati.
Menurut Mahbib, para santri bergiliran memandikan di samping rumah sebelum jenazah disemayamkan di ruang tengah untuk disholatkan secara bergiliran pula. Sholat Jenazah untuk Gus dur di kediaman Ciganjur sendiri, berlangsung berkali-kali sejak dimandikan hingga sebelum diberangkatkan menuju Bandara Halim Perdana Kusuma. Dari Bandara Halim Perdana Kusuma ini jenazah kemudian diterbangkan ke peristirahatan terakhirnya di Tebuireng Jombang.
"Tidak terhitung berapa kali sholat dilakukan bergantian. Para jamaa terus berduyun-duyun sholat di hadapan jenazah. Sementara mereka yang tidak bisa masuk, lalu melaksanakan sholat jenazah di Masjid al-Munawwaroh," tutur Ahsin, imam Masjid al-Munawwaroh Ciganjur. (min)
GUS DUR WALI (2)
Gus Ipul: Keberanian Gus Dur Tanda Kewalian
Jumat, 18 Februari 2011 13:30
Gus Ipul: Keberanian Gus Dur Tanda Kewalian
Jumat, 18 Februari 2011 13:30
Jakarta, NU Online
Tak ada orang yang tahu seseorang telah menjadi wali atau kekasih Allah keciali wali lainnya. Meskipun demikian H Saifullah Yusuf, wakil gubernur Jawa Timur juga yakin akan kewalian yang ada pada Gus Dur.
Ia merujuk pada sebuah ayat Qur’an, Ala inna aulia allahi la khoufun alaihim wala hum yahzanuun yang dalam arti bebasnya, para wali merupakan orang yang tidak punya rasa takut kecuali pada Allah.
“Gus Dur pada batas tertentu diatas rata-rata keberaniannya, ketakutannya terhadap urusannya dunia terbukti tak pernah menghalangi perjuangan dia untuk, katakanlah menolong ummat, membantu masyarakat, maka ia tak punya rasa takut kepada apa pun kecuali Allah,” katanya, Kamis (17/2).
Mengenai aspek mistis dari Gus Dur, Saifullah Yusuf yang masih keponakan ini mengaku tak pernah melihat sesuatu yang di luar nalar dari Gus Dur.
“Ndak ada mistis dari Gus Dur, tetapi beliau ahli silaturrahmi, baik pada yang hidup atau pun yang mati. Al ahyak minhum wal amwat. Wong NU kalau ketemunya yang urip (hidup) saja, kurang NU. Diparani kabeh (didatangi semua), ini ciri khas NU,” tuturnya.
Tentang hubungan pribadinya yang ngak selalu cocok, ia menjelaskan, Gus Dur yang ngajarkan perbedaan. “Gus Dur ngerti ini konsekuensi apa yang selama ini diyakini. Dia membesarkan orang yang suatu ketika berhadapan dengan dirinya, baik dari sisi pemikiran dan politik, itu biasa, baginya. Dan ini dibawa sampai meninggal,” paparnya.
Ia menambahkan kembali bahwa seorang wali memiliki keunggulan komparatif dibanding manusia biasa, melampaui umumnya manusia, baik dalam akidahnya atau ketaqwaannya.
“Saya mengaggap Gus Dur diatas rata-rata, karena diberi di atas rata-rata berarti kekasih Allah. Gus Dur ora duwe wedi,” tandasnya. (mkf)
Tak ada orang yang tahu seseorang telah menjadi wali atau kekasih Allah keciali wali lainnya. Meskipun demikian H Saifullah Yusuf, wakil gubernur Jawa Timur juga yakin akan kewalian yang ada pada Gus Dur.
Ia merujuk pada sebuah ayat Qur’an, Ala inna aulia allahi la khoufun alaihim wala hum yahzanuun yang dalam arti bebasnya, para wali merupakan orang yang tidak punya rasa takut kecuali pada Allah.
“Gus Dur pada batas tertentu diatas rata-rata keberaniannya, ketakutannya terhadap urusannya dunia terbukti tak pernah menghalangi perjuangan dia untuk, katakanlah menolong ummat, membantu masyarakat, maka ia tak punya rasa takut kepada apa pun kecuali Allah,” katanya, Kamis (17/2).
Mengenai aspek mistis dari Gus Dur, Saifullah Yusuf yang masih keponakan ini mengaku tak pernah melihat sesuatu yang di luar nalar dari Gus Dur.
“Ndak ada mistis dari Gus Dur, tetapi beliau ahli silaturrahmi, baik pada yang hidup atau pun yang mati. Al ahyak minhum wal amwat. Wong NU kalau ketemunya yang urip (hidup) saja, kurang NU. Diparani kabeh (didatangi semua), ini ciri khas NU,” tuturnya.
Tentang hubungan pribadinya yang ngak selalu cocok, ia menjelaskan, Gus Dur yang ngajarkan perbedaan. “Gus Dur ngerti ini konsekuensi apa yang selama ini diyakini. Dia membesarkan orang yang suatu ketika berhadapan dengan dirinya, baik dari sisi pemikiran dan politik, itu biasa, baginya. Dan ini dibawa sampai meninggal,” paparnya.
Ia menambahkan kembali bahwa seorang wali memiliki keunggulan komparatif dibanding manusia biasa, melampaui umumnya manusia, baik dalam akidahnya atau ketaqwaannya.
“Saya mengaggap Gus Dur diatas rata-rata, karena diberi di atas rata-rata berarti kekasih Allah. Gus Dur ora duwe wedi,” tandasnya. (mkf)
GUS DUR WALI
Kewalian Gus Dur Masuk Akal
Jumat, 11 Februari 2011 14:30
Kewalian Gus Dur Masuk Akal
Jumat, 11 Februari 2011 14:30

Tidak ada komentar:
Posting Komentar